Showing posts with label catatan penulisan. Show all posts
Showing posts with label catatan penulisan. Show all posts

Monday, July 6, 2015

Keagungan diatas cinta Layla dan Qais (majnun)

Makam Laila dan Majnun


Kau tidak akan mampu mendefenisikan cinta dengan nalar, sahabat, tidak... bahkan melalui piramida mashlow yang meletakkan cinta dan kasih sayang sebagai kebutuhan ketiga bagi manusia setelah kebutuhan fisiologis dan kebutuhan kenyamanan tidak akan mampu menjelaskannya.

Kau tidak akan mampu menjelaskan kenapa istri alm. Bob sadino, nyonya almh. Soelami Soejoed, rela meninggalkan kenyamanan beliau sebagai wanita karir demi menemani bob sadino yang seorang tukang batu dan supir angkot merintis impian beliau sebagai entrepreneur dalam keadaan kelaparan dan ketidak nyamanan diawal – awal mereka merintis usaha.

Atau bagaimana nyonya almh. Hasri ainun besari yang seorang dokter rela meninggalkan profesi dokternya demi menemani hari – hari BJ. Habibie merangkai impiannya membangun Indonesia dari pintu sekolahnya di Jerman.

Bahkan engkau tidak akan mampu mendefenisikan cinta lewat teori psikoseksual milik sigmund freud, bahwa oedipus complex yang berasal dari sentuhan kulit lewat kenikmatan onani (?) semenjak kita bayi yang membuat kita merasa tertarik pada seseorang.

Tidak, bahkan engkau akan dapat jatuh cinta untuk pertama kali pada seseorang yang yang belum pernah dikenal sebelumnya, bahkan kita tidak perlu menyentuhnya untuk mengetahui bahwa kita mencintainya.

Cinta masuk ke dalam sanubari tanpa kami undang
Ia bagai ilham dari langit yang menerobos
Dan bersemayam dalam jiwa kami
Dan kini kami akan mati karena cinta asmara
Yang telah melilit seluruh jiwa
Katakan padaku, siapa orang yang bisa
Bebas dari penyakit cinta?(syair Qais)

Cinta dapat engkau pahami melalui perasaan dari dalam hatimu, cinta hadir kepada siapa  saja yang dia kehendaki, meskipun kita jarang berbicara kepadanya, jarang bersua dengannya.



manifesto cinta bukan hadir melalui raga yang harus didekap setiap harinya, bahkan bila dia telah tiada didunia ini, kita akan menelusuri jejak – jejak orang yang pernah hadir dalam hati kita.

Aku melewati dinding ini, dinding Layla.
Dan aku mencium tembok ini dan dinding yang ini.
Bukan Cinta dari rumah-rumah yang telah mengambil hatiku.
Tapi Dia yang berdiam di rumah-rumah


Hargailah cinta, bukan melalui kehadiran raga dalam dekapan kita, bukan melalui suara yang kita dengar, bukan melalui kulit yang kita sentuh, hargailah cinta dengan tidak melanggar apa yang dilarang oleh pemilik cinta itu sendiri, Tuhan kita, disana engkau akan merasa bahagia meski kita tidak sempat mengucapkan kata cinta kepada dirinya.

Disinilah keagungan yang berdiri diatas cinta layla dan majnun, yang melegenda lebih dari 1000 tahun, cinta mereka bukan cinta kosong tentang kepemilikan raga, dan soal pemuasan hasrat seksual belaka, mereka saling mencintai tanpa meninggalkan norma sosial dan agama yang hadir dalam kehidupan mereka, seperti yang dijelaskan sigmund freud, Super ego (Das Ueber Ich) yaitu kekuatan moral dan etik dari kepribadian  mereka telah menguasai id (Das Es) dan ego (Das Ich)  mereka, bukan seperti para pecinta masa kini, yang berkuasa atas raga adalah id (kebutuhan dasar) yang menguasai ego dan super ego.

resapilah makna cinta Qais berikut ini :

Kerabat dan handai- taulanku mencela
Karena aku telah dimabukkan oleh dia
Ayah, putera- putera paman dan bibik
Mencela dan menghardik aku
Mereka tak bisa membedakan cinta dan hawa nafsu
Nafsu mengatakan pada mereka, keluarga kami berseteru
Mereka tidak tahu, dalam cinta tak ada seteru atau sahabat
Cinta hanya mengenal kasih sayang
Tidakkah mereka mengetahui?
Kini cintaku telah terbagi
Satu belahan adalah diriku
Sedang yang lain ku berikan untuknya
Tiada tersisa selain untuk kami

Wahai burung- burung merpati yang terbang diangkasa
Wahai negeri Irak yang damai
Tolonglah aku !
Sembuhkan rasa gundah- gundah yang membuat kalbu tersiksa
Dengarkanlah tangisanku
Suara batinku

Waktu terus berlalu, usia makin dewasa
Namun jiwaku yang telah terbakar rindu
Belum sembuh jua
Bahkan semakin parah

Bila kami ditakdirkan berjumpa
Akan kugandeng lengannya
Berjalan bertelanjang kaki menuju kesunyian
Sambil memanjatkan doa- doa pujian kepada Allah SWT
Ya Raab, telah kujadikan dia
Angan- angan dan harapku
Hiburlah diriku dengan cahaya matanya
Seperti Kau hiasi dia untukku
Atau buatlah dia membenciku
Dan keluarganya dengki padaku
Sedang aku akan tetap mencintainya
Meski sulit aku rasa

Mereka mencela dan menghina diriku
Dan mengatakan aku hilang ingatan
Sedang dia sering terdiam mengawasi bintang
Menanti kedatanganku

Aduhai, betapa mengherankannya
Orang- orang mencela cinta
Dan menganggapnya sebagai penyakit
Yang meluluh- lantakan dinding ketabahan

Aku berseru pada singgahsana langit
Berikan kami kebahagiaan dalam cinta
Singkaplah tirai derita
Yang selalu membelenggu kalbu

Bagaimana mungkin aku tidak gila
Bila melihat gadis bermata indah
Yang wajahnya bak matahari pagi bersinar cerah
Menggapai balik bukit, memecah kegelapan malam
Keluarga berkata
Mengapakah hatinya wahai ananda?
Mengapa engkau mencintai pemuda
Sedang engkau tidak melihat harapan untuk bersanding dengannya
Cinta, kasih dan sayang telah menyatu
Mengalir bersama aliran darah di tubuhku

Cinta bukankah harapan atau ratapan
Walau tiada harapan, aku akan tetap mencintainya
Sungguh beruntung orang yang memiliki kekasih
Yang menjadi karib dalam suka maupun duka
Karena Allah akan menghilangkan
Dari kalbu rasa sedih, bingung dan cemas
Aku tak mampu melepas diri
Dari jeratan tali kasih asmara
Karena surga menciptakan cinta untukku
Dan aku tidak mampu menolaknya

Sampaikan salamku kepada dia,
wahai angin malam
Katakan, aku akan tetap menunggu

Hingga ajal datang menjelang

Foto terkutuk dan altar suci



Kemiskinan memang makanan empuk bagi orang – orang pemuja humanisme, gelas – gelas sampanye mereka yang senantiasa terisi saat pesta – pesta amal ataupun penyerahan penghargaan terhadap karya fotografi terbaik, mereka menjual tangisan – tangisan kelaparan dunia ketiga kepada penduduk dunia pertama dan dunia kedua dalam poros utara – utara untuk menuai simpati memperoleh penghargaan tertinggi atas karya mereka.

Tak terhitung sudah berapa milyar dollar habis dalam transaksi jual beli kemiskinan ini, lewat penjualan konsep – konsep yang mereka sebut “pengentasan kemiskinan” dari kampus – kampus mereka, lewat penjualan kampanye – kampanye “penghapusan kemiskinan” para kepala negara dunia ketiga, lewat platinum award penjualan album bertema kemiskinan, lewat putlizer award fotografi terbaik tentang kemiskinan, lewat peningkatan jumlah oplah surat kabar terjual dengan berita kemiskinan yang menguras air mata pembaca.

Aku tidak menyalahkan musisi yang berkarya menyuarakan kemiskinan ditengah kemakmuran masyarakat, aku tidak menyalahkan surat kabar yang memberitakan realitas orang – orang yang hampir mati kelaparan, aku tidak menyalahkan realitas foto bahwa kematian hadir ditengah mata dalam selembar foto.

Yang aku sesalkan adalah, saat para orang beragama merayakan kebahagiaan berbagi kurban di hari raya idul adha antara yang bekurban dan yang menerima kurban seolah saudara kandung yang lama terpisah, saat malam – malam menjelang idul fitri para petugas zakat mengetuk pintu janda, orang miskin dan anak yatim untuk membagikan zakat, dan sedikitpun mereka tidak memikirkan apa yang mereka lakukan karena takut berbuat riya...

Tiba – tiba kaum pemuja humanisme datang membawa berita mereka, foto mereka, musik mereka, sastra mereka menyalahkan moral orang yang beragama bahwa mereka tidak punya nurani terhadap pelacur disini dan disana, orang – orang busung lapar yang hampir mati, dan sebagainya, bertindak sebagai hakim bukan sebagai pembawa berita, “orang beragama munafik”, dinegara beragama, moral dipertanyakan bukan tindakan, kata para humanisti.

Entah ada hubungan apa antara munafik dengan kemiskinan? Tentu saja orang – orang beragama terkejut, karena mungkin fokus mereka membantu orng yang dekat dengan lingkungan mereka untuk dibantu pertama kali, bukan untuk orang yang jauh lokasinya dari mereka.

Apa yang kusebut dialog – dialog antara dua pihak tidak terjadi, kaum pemuja humanisme telah bertindak sebagai hakim agung dari negeri suci belahan utara, yang menimbulkan antipati kaum agamis kepada mereka, kaum pemuja humanisme membawa setitik konflik diantara sejuta keharmonisan nusantara yang bernama, syiah sampang, ahmadiyah, dan kasus – kasus lainnya, seolah mereka malaikat suci.

Adakah kantor mereka, rumah mereka, gaji mereka dipergunakan untuk membantu orang – orang yang mereka sebut minoritas? Atau mereka hanya menjual kasus dinegeri ini demi mendapatkan nobel perdamaian untuk mengisi lemari mereka? Solusi apa yang mereka tawarkan untuk mengatasi realitas kemiskinan?

Tak kulihat bagaimana aktifis humanisme berjuang menghapus tembok yahudi di Israel, kelaparan di rohingnya, kemiskinan akut di papua nugini dan timor leste, entah kenapa fokus mereka hanya terpaku kepada negara - negara yang sudah stabil.

Bahkan kurasa erasmus pun menangis dalam kuburnya, melihat humanisme yang dia kemukakan dijadikan bisnis oleh kaum pemujanya, ngomong – ngomong soal erasmus, entah kenapa aku tertawa melihat realitas kemunafikan kaum pemuja humanisme, dinegeri asal erasmus, kesetaraan antar penduduk sangat dihargai, kecuali untuk inlander – inlander yang berada disebuah negeri bernama “hindia belanda”

Ku kutip perkataan terakhir kevin carter, pemenang putlizer 1993 yang melahirkan foto fenomenal sampai saat ini, namun akhirnya bunuh diri, karena tekanan batin nurani manusia menghujam seluruh tubuhnya saat teringat obyek fotonya dicabik – cabik burung bangkai dan dia tidak menolong anak tersebut sedikitpun.


"I'm really, really sorry. The pain of life overrides the joy to the point that joy does not exist... depressed ... without phone ... money for rent ... money for child support ... money for debts ... money!!! ... I am haunted by the vivid memories of killings and corpses and anger and pain ... of starving or wounded children, of trigger-happy madmen, often police, of killer executioners ... I have gone to join Ken if I am that lucky."

He said: Dear God,
I promise I will never waste my food no matter how bad it can taste and how full I may be. I pray that He will protect this little boy, guide and deliver him away from his misery. I pray that we will be more sensitive towards the world around us and not be blinded by our own selfish nature and interests.  
I hope this picture will always serve as a reminder to us that how fortunate we are and that we must never ever take things for granted.
Please don’t break.. keep on forwarding to our friends On this good day. Let’s make a prayer for the suffering in anywhere anyplace around the globe and send this friendly reminder to others “Think & look at this… when you complain about your food and the food we wasted daily……..

Sunday, October 9, 2011

Bingkai Jendela




Semua bermula dari salah ku sendiri, mencoba melompati jendela pembatas antara rumahku dengan rumahnya, bagaimana mungkin aku tidak tergode dengan pemandangan di halaman rumahnya, begitu syahdu dan menentramkan siapapun yang melihatnya dari luar jendela.
Ah, duniaku yang terasa hitam dan putihlah yang memaksa aku memandang dunia penuh warna di sebelah sana, aku merasakan ada kebebasan dan hal – hal baru yang terlihat dalam dunia penuh warna yang terpampang di jendela kamarku.
Dunia ku yang ramai dan penuh dengan orang – orang yang saling memperhatikan satu dengan lain membuatku bosan dan ingin merasa sendiri di balik jendela, aku membutuhkan kesunyian, aku membutuhkan privasi, aku membutuhkan kesendirian.
Dunia penuh warna yang terpampang di seberang bingkai jendela seolah memberikan apapun yang aku butuhkan, saat aku pandang setiap hari tiada bosan dan kejemuan yang 
aku lihat.

Maka sampailah kakiku di dunia penuh warna dan kebebasan yang ada di depan mataku, bukan ilusi, bukan khayalan, semua riil dan begitu nyata bagiku, dunia penuh warna yang menghadirkan semua impian dan keinginan yang selama ini aku idamkan.

Aku pandang dunia hitam putih untuk terakhir kalinya, sebelum aku berlari melintasi hutan dan semak belukar yang ada di hadapan mataku saat ini. “selamat tinggal” kataku dalam hati, dan mulai berlari dan berlari memasuki dunia dan pengalaman baru yang menanti depan mata, pasti sesuai dengan khayalanku.

Aku sudah lupa jalan kembali ke jendela, petualangan – petualangan baru begitu mengasyikkan buatku, melihat ribuan warna, ribuan macam hal – hal unik yang tidak pernah aku saksikan hadir di hadapan mata.

Semakin hari, semakin jauh aku melangkah ke dalam dunia baru ini, hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun. Tahun pertama begitu indah bagiku, begitu hidup, namun menapaki tahun – tahun yang mulai berjalan, aku mulai merasa  mulai kesepian dan kehilangan.

Pernah aku menemukan tulang – belulang manusia yang sedang berposisi duduk di suatu pohon, apakah dia seperti diriku? Terjebak dalam dunia warna dan kehilangan dunia yang pernah aku tinggal di dalamnya? Entah kenapa jebakan ilusi begitu menggoda untukku saat ini. Aku telah kehilangan arah untuk kembali pulang ke duniaku yang lalu.

Kelelahan mulai mengisi rongga paru – paru dan sendi – sendi tulangku, aku tidak mampu lagi untuk berjalan jauh, dunia ini begitu luas terhampar dan hanya akulah satu – satunya orang yang masih hidup di belahan dunia ini, terduduk aku di sebuah pohon rindang di tepi hutan, menyesali kebodohanku yang kurang mensyukuri duniaku yang sederhana….
***
10 tahun kemudian,,,

“Ibu, aku ingin kamar di atap ini, pemandangannya indah” kata seorang anak kepada Ibunya, saat mereka baru membereskan rumah tempat tinggal baru mereka, di tepian kota kecil yang cukup terpencil.

“Iya, Banu, jangan lupa bereskan kamarmu sebelum tidur disana malam ini” sahut Ibunya.
Banu tidak mendengar perkataan ibunya, dirinya sedang sibuk dengan lamunannya sendiri tentang dunia yang terhampar di luar jendela kamarnya…

“Suatu hari, aku ingin melompati jendela ini, menuju kesana” batin Banu….

Saturday, October 8, 2011

Bagaimana Enid Blyton menulis


Enid Blyton, Guru penulis dan 800  karya tulisnya

Untuk para penggemar lima sekawan, yuk kita pelajari lagi tentang penulisnya, Enid Blyton, Beliau adalah penulis fiksi terbesar nomer 7 dunia, dibawah Sidney Sheldon dalam hal penjualan karyanya di seluruh dunia versi Wikipedia, yang sumber pengambilan wiki dari encyclopedia Britannica. Karya – karyanya telah terjual sekitar 600 Juta kopi dalam 90 bahasa utama dunia, dalam hal produktifitas, Enid Blyton hanya bisa dikalahkan oleh Corin Tellado yang membuat 4000 judul tulisan, sementara karya Enid Blyton berjumlah kurang lebih 800 judul.
Kehidupan Pribadi Enid Blyton,
Enid Blyton dilahirkan pada tanggal 11 Agustus 1897 di East Dulwich, London, Kerajaan Inggris, dia merupakan anak pertama dari pasangan Thomas Carey Blyton dan Theresa Mary Harrison Blyton. Juga Blyton memiliki 2 orang adik laki – laki yang bernama Hanly dan Carey.
Dari tahun 1907 sampai tahun 1915, Blyton bersekolah di St. Christopher's School. Selanjutnya dia belajar menjadi guru di Ipswich High School, dan mengajar selama masing – masing 5 tahun di Bickley, Surbiton dan Chessington. Menulis merupakan kegiatan di waktu luangnya.
Cara Blyton menulis sebuah Karya tulis,
Bagaimana cara dan sistematika Enid Blyton sebelum ataupun sesudah selesai menuliskan karya tulisnya? Yuk kita pelajari,
Dari website http://www.enidblytonsociety.co.uk/enid-the-writer.php kita akan mempelajari teknik Enid Blyton dalam menyelesaikan karya tulisnya, tentu saja denga beberapa penyesuaian yang empuss inginkan. :P (ga ada istilah objektif2an ya,,,? Xixixi )
1.    Bagaimana cara Enid Blyton menuliskan karyanya?

Sebelum menuliskan sebuah karya, Enid Blyton tidak pernah merencanakan karya – karyanya sebelumnya, seringkali dia kebingungan harus memulai membuat permulaan untuk tulisannya. Namun, dia tetap menuliskan imajinasinya kedalam kertas, dia lebih menyukai langsung menuliskan apa yang ada di dalam khayalannya daripada menuliskan pengalaman  perjalannya, dia menjelaskan apa yang dia lakukan sebagai “aku melihat sebuah bioskop mini berada di dalam kepalaku,,,, dan apa yang telah aku lihat disana aku tuliskan ke dalam kertas”. Lebih lanjut dia menjelaskan kepada sahabatnya Peter McKellar, “ itu adalah tampilan tiga dimensi, lengkap dengan suaranya, sensasinya, dan perasaannya!”.

Saat Enid memulai menulis, maka tokoh adalah hal pertama yang dia tuliskan, bagaimana karakternya, bagaimana kebiasaannya, bagaimana postur tubuhnya, kemudian setelah itu dia akan menuliskan suasana atau tempat terjadinya, apa yang sedang tokoh lakukan saat itu. Intinya adalah saat dia telah mendapatkan gambaran terang tentang tokoh, suasana dan apa yang terjadi di dalam khayalannya, maka dia akan langsung menuliskannya ke dalam tulisan.

Setiap cerita yang dia khayalkan selalu merupakan satu cerita lengkap, suatu satu kesatuan dari awal hingga akhir, saat Enid sedang menulis, dia seakan – akan tidak ingin berhenti dari kegiatan menulis dan memikirkan hal lain di luarnya. Dia tidak ingin rasa dan pengalaman khayalannya di rusak oleh ide – ide ataupun alur cerita penulis lain dalam karyanya. Dia hanya ingin menjadi seorang pengamat, seorang reporter, seorang penterjemah, antara dunia khayalannya dengan karya – karyanya yang akan di nikmati pembaca.

2.    Darimana Enid Blyton mendapatkan ide – ide karyanya?

Enid Blyton selalu menyediakan sumber tulisannya yang berasal dari imajinasi yang telah sering dia latih semenjak masih masa anak – anak, (pengkhayal keras berat neh). Semua imajinasi dia dapatkan dari pengalamannya selama hidup, dan menjadi bahan mentah yang akan dia tuliskan kedalam karyanya. Semua di olah dan diramu di dalam pikirannya.

Dan seringkali alur, tema, dan tempat dalam ceritanya berasal dari pengalaman pribadinya, misalnya, bagaimana hal yang pernah terjadi di tempat dia bekerja, kemudian mengadaptasi pengalamannya, mengubahnya kedalam ceritanya, memotong beberapa bagian yang tidak penting, dan kemudian menuliskan hasil khayalannya kedalam karyanya. Imajinasinya tentang tokoh juga cukup sering dia ambil dari karakter teman – teman dan kolega yang pernah di kenalnya.

3.    Mengapa Enid Blyton menuliskan banyak buku?

Enid Blyton memiliki kepedulian yang tinggi kepada anak – anak, dari berbagai batasan usia, dia senantiasa berharap karya – karyanya tidak hanya di nikmati oleh segmen umur tertentu saja, keinginannya adalah dia dapat menjadi sahabat bagi pembacanya, mulai dari usia kecil sampai usia dewasa. Selain punya banyak kepedulian kepada pembacanya, Enid Blyton juga menyukai menuliskan berbagai topic karya tulis, mulai dari cerita misteri dan petualangan, dia juga menulis buku pelajaran, buku pengetahuan umum, buku agama, buku fauna, novel keluarga, novel romantic, puisi, lagu, artikel. Dan dia pernah juga menuliskan kisah sejarah, legenda dan fable.

Dalam tulisannya, dia tidak hanya piawai merangkai kata, dia juga suka memasukkan nilai moral kedalam ceritanya, tujuannya adalah untuk mendidik dan mengajarkan semua hal kepada pembacanya.
Teknik penulisan seorang penulis terkenal seringkali membuat kita lebih bersemangat untuk menulis, karena kita telah mengenal karya – karya penulis tersebut sebelum mengetahui bagaimana dia menulis, sangat di sayangkan sekali bahwa teknik – teknik penulisan karya fiksi masih jarang, kalau tidak di katakan belum ada, di toko buku dan perpustakaan yang ada di negeri ini.
Semoga tulisan yang masih mentah ini dapat memotivasi teman – teman kompasioner untuk lebih rajin dalam menulis fiksi. J
***
The advice Enid Blyton gives in The Story of My Life to children who want to write is: "Fill your mind with all kinds of interesting things—the more you have in it, the more will come out of it. Nothing ever comes out of your mind that hasn't already been put into it in some form or other. It may come out changed, re-arranged, polished, shining, almost unrecognizable—but nevertheless it was you who put it there first of all. Your thoughts, your actions, your reading, your sense of humour, everything gets packed into your mind, and if you have an imagination, what a wonderful assortment it will have to choose from!"



Sumber :


Friday, October 7, 2011

help,,,,

Saat ide menghilang
terasa kosong dalam pikiran
tidak ada tinta yang tumpah malam ini
tidak ada kata2 terketik dalam keyboard
semua membeku
seiring datangnya malam yang dingin

Tuesday, October 4, 2011

Mr. Cuek Vs Mrs. Perfeksionis


“Kring,,,” Handphone Dodi berbunyi saat dinihari
“Abang,, bangun” Kata Farah dari ujung saluran telefon
“iya” jawab Dodi sambil menguap
“tunggu dulu, bang, jangan di tutup” kata Farah menahan Dodi
“ Jangan lupa apa – apa yang akan abang bawa saat meeting nanti”
“Adek sudah siapkan daftarnya” lanjut Farah
“oke”
“Materi Pelatihan”
“Ada”
“Softcopy pelatihan”
“Ada”
“Sepatu”
“Ada”
“Baju, celana, ikat pinggang, dasi, jas, catatan”
“Ada”
“Ada atau tidak ada, abaaaaaaaaaaannnggg” kata Farah dengan kesal
“Ada, sudah di taruh di atas meja kamar hotel”
“Adinda selalu khawatir kalau abang itu tugas keluar kota”
“hehehe,,, santai aja ah”
“ya udah, jangan lupa setelah sholat subuh jangan bobo, miss u”
“miss u too”
Dodi meletakkan handphonnya di atas meja, dan kemudian melanjutkan tidurnya.
***
Paginya Dodi berangkat menuju kantor cabang perusahaannya bekerja dengan terburu – buru karena kesiangan dengan menggunakan taksi, sebuah suara memanggilnya saat dia baru masuk ke pintu kantor
“Pak Dodi, tolong kesini sebentar” panggil Andri, pimpinan cabang sekaligus teman dekat Dodi
“Ayo masuk ke kantor, ada hal kecil yang ingin saya bicarakan”
Dodi mengikuti langkah Andri memasuki sebuah ruangan kerja, barang – barang tersusun rapi di sana, terdapat meja tamu, lemari arsip, meja kerja, TV di sudut ruangan serta sebuah cermin besar di samping kamar kecil pimpinan.
“ Ada apa, pak Andri?” Tanya Dodi
“Sebentar lagi kita mau rapat, tetapi coba lihat penampilanmu di cermin” kata Andri sambil terkekeh
Dodi kemudian berjalan menuju cermin untuk melihat penampilannya, dia terkejut, karena panampilannya yang tidak rapi, dasinya miring kesamping, bajunya ada yang salah pasang, rambutnya awut – awutan, bahkan restleting celananya lupa dia naikkan, mukanya menjadi merah karena menahan malu, sambil merapikan penampilannya.
“Hahaha,,, penyakitmu sudah lama saya bilang, sobat” Kata Andri sambil tertawa Lepas,
 “Cuma tiga saja, lupa, buru – buru, dan ngantuk karena kurang tidur” lanjutnya
“Iya, istriku juga bilang seperti itu”, jawab Dodi
“Kamu tahu penyebabnya? Karena kamu itu terlalu cuek untuk mengurus diri kamu sendiri, cobalah untuk perhatian pada dirimu sedikit saja, saya rasa, 5 menit sebelum kamu berangkat ke kantor untuk berdiri di depan cermin lebih baik daripada terburu – buru, dan jangan pernah takut untuk terlambat berangkat, jika saja kamu memiliki waktu yang cukup beristirahat malam harinya” nasihat Andri kepada Dodi sambil menepuk – nepuk pundak Dodi.
“Terima kasih nasihatnya, Bos” jawab Dodi sambil menyengir,
“yuk kita mulai rapat” ajak Andri.
***
Farah sedang duduk termenung di ruang tamu, sambil memandang album foto pernikahannya, hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan ke lima dengan Dodi, mereka telah saling kenal mengenal semenjak duduk di bangku perkuliahan, Farah adalah aktifis kampus yang senantiasa sibuk dengan organisasi dan perkuliahan, sementara Dodi adalah mahasiswa yang jarang ikut ke dalam aktifitas organisasi, hobinya berkumpul dengan kawan segenknya, mengabaikan perkuliahan, aktif dalam tawuran antar fakultas, bahkan juga ikut dalam demo – demo anarkis yang sering bentrok dengan aparat keamanan di jalanan. Persamaan di antara mereka hanya satu, yaitu Farah dan Dodi sama – sama tidak pernah berpacaran, selebihnya perbedaan mereka ibarat bumi dan langit, Farah adalah anak pertama, sedangkan Dodi merupakan anak terakhir di keluarganya.
Pertemuan terakhir mereka setelah tamat kuliah terjadi 5 ½ tahun yang lalu, saat Farah dan Dodi sedang berbelanja di pusat perbelanjaan terbesar kota ini, akhirnya Dodi yang bersifat pemberani, dengan agresif langsung melamar Farah kepada orang tuanya, tanpa proses berpacaran, hanya melamar, bertunangan 6 bulan dan akhirnya duduk di bangku pelaminan.
Tahun pertama pernikahan mereka diwarnai oleh episode – episode pertengkaran dua insane yang berbeda karakter,Farah yang berkarakter keras namun lembut jika di beri pemahaman secara perlahan – lahan VS Dodi yang berkarakter pengalah namun sangat keras dalam memegang prinsip hidupnya, walaupun sama – sama lelah oleh pertengkaran yang mewarnai tahun pertama pernikahan mereka, bunga – bunga cinta semakin mekar seperti musim semi, karena melalui proses pertengkaran itulah mereka semakin saling memahami suara hati pasangannya.
Tetesan – tetesan air mata keluar dari pipi merahnya, saat menutup album foto pernikahan mereka, sambil menyeka air matanya, dia beranjak menuju dapur, duduk di meja makan, memandang kue tart pernikahan yang dia buat sendiri, untuk merayakan ulang tahun pernikahan mereka seperti tahun – tahun sebelumnya, ingin sekali dia menelefon suaminya, namun karena takut mengganggu kesibukan suaminya, di urungkannya niatnya.
“Krinnggggg,,,,” Handphine Farah berbunyi
“Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam, Adinda, cintaku, lagi ngapain tu,,,?” Jawab Dodi
“Lagi menerima telefon,,,”
“Dari siapa,,,?”
“Dari siapa yah,,,? Ga ada di Handphone ini nomernya” kata Farah sambil tertawa
“Huuu,,,, selalu always tidak pernah never deh,,, hehehe”
“Ya iyalah, masa ya iya dong” jawab Farah
“Makan kedondong ga bagi – bagi” kata Dodi
“Kedondong udah di buat jadi rujak, xixixi” balas Farah
“Oh ya, hari ini Kakanda mau mengucapkan Happy milad untuk pernikahan kita yang ke lima ya, my Queen”
“Kakanda tahu, selama ini mungkin sudah terlalu banyak membuat Adinda lelah melakukan pekerjaan rumah dan menemani kakanda mengarungi bahtera kehidupan selama ini”
“xixixi,,, aduh Kakanda, itu sudah tugas dan kewajiban adinda, sebagi seorang istri, Adinda selalu menganggap cinta bukanlah perdagangan untuk mencari untung, Kakandaku sayang, Cintaku kepada Kakanda karena Allah SWT dan semata – mata mengharapkan menjadi amalan ibadah Adinda saja”
“Aduh, Adindaku, jadi kangen mau cepat – cepat pulang neh, sehari serasa sudah sewindu, sekarang sudah seminggu, terasa seperti memancing udang Galah, hehehe”
“Oh ya, hamper lupa, tadi abang ada mengirimkan kado untuk Adinda, sekalian mengirimkan kado ultah untuk keponakan imut Abang yang di Bandung, Zaki, Kado untuk adinda itu berupa Gaun malam, tadi sewaktu melewati butik, abang teringat Adinda sudah lama tidak membeli gaun, sementara untuk Zaki tadi Abang belikan mainan kesukaannya”
“Iya Abang, terima kasih”
“Sudah dulu ya? Mau kerja lagi sekarang, Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam W. W.” tutup Farah
***

“Ting tong,,,” Suara bell ruangan tamu
Farah meletakkan Handphonnya di atas meja dapur, bergegas dia menuju ruang tamu untuk membuka pintu.
Seorang pengantar barang dari perusahaan ekspedisi mengantarkan kiriman kadi dengan nama penerima yang tertempel di atas kertas kado yang membungkus kiriman tersebut, setelah menyelesaikan administrasi, Farah kemudian membawa kado tersebut ke ruangan keluarga.
“kok gede ya,,,? Perasaan abang bilang kadonya gaun, tentu tidak besar bungkusannya” pikir Farah
Kemudian dibukanya sampul kertas kado dan kardus yang membungkus isinya. Sebuah mobil elektrik terdapat di dalamnya, sebuah mainan untuk anak – anak berusia di bawah 10 tahun.
“Abang Jelekkk” teriak Farah dengan gemas



Total Pageviews

Followers

Archive

 

© 10-5-2014 Empuss miaww. All rights resevered. Designed by Diubah karena banyak script anehnya

Back To Top