Monday, February 23, 2026

Payung yang Tak Pernah Dibuka

 

Oleh: Empuss Miaww

Sudah dua puluh tahun berlalu, namun aroma tanah basah setelah hujan sore ini tiba-tiba menarik paksa ingatanku ke masa itu. Masa di mana aku adalah seorang pria muda yang merasa dunia adalah panggung pribadiku, dan aku adalah sutradara yang terlalu sombong untuk mendengarkan saran asistennya.

Aku duduk di teras rumah, menyesap kopi yang mulai dingin. Di dalam, istriku sedang sibuk menata meja makan. Aku menatap hujan dan tiba-tiba teringat lagu itu. Lagu Idgitaf yang liriknya seolah-olah ditulis khusus untuk menampar wajahku yang bebal: “Sedia aku sebelum hujan... apa yang kau butuh, kuberikan.”

Aku tersenyum kecut. Ternyata, dulu hidupku dipenuhi oleh "payung-payung" yang tak pernah kubuka.

Tahun 2004. Aku adalah si bungsu yang uring-uringan, bebal, dan merasa bahwa dicintai adalah hak patenku tanpa perlu repot-repot membalasnya. Ada seorang mahasiswi bidan saat itu. Namanya fiktif saja, Rania. Dia adalah tipikal anak sulung yang mandiri, egonya setinggi langit, namun entah kenapa, radar cintanya terkunci padaku.

"Arif, bawa payung ini. Nanti sore mendung," katanya suatu kali saat aku hendak pergi ke kampus.

Aku hanya melirik payung lipat kecil di tangannya dengan sebelah mata. "Nggak usah. Aku nggak suka bawa barang ribet. Lagian kalau hujan ya neduh, atau kalau basah ya tinggal ganti baju."

Rania menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan saat itu. Kini aku tahu, itu adalah tatapan seorang wanita yang sedang menawarkan perlindungan, namun ditolak mentah-mentah oleh keangkuhan seorang pria yang merasa dirinya tak terkalahkan oleh cuaca.

Rania tidak menyerah. Dia selalu ada "sebelum hujan". Saat aku telat makan karena sibuk dengan urusan tak jelas, dia datang membawa bungkusan. Saat aku butuh teman bicara namun hanya bisa marah-marah karena insecure dengan masa depanku sendiri, dia duduk diam mendengarkan.

Sampai pada suatu hari, di bawah rintik hujan yang sama seperti sore ini, Rania berdiri di depanku. Matanya berkaca-kaca, sebuah pemandangan yang jarang kulihat dari wanita semandiri dia.

"Tatap mataku, Arif," suaranya serak, bersaing dengan bunyi air yang jatuh di atap kos. "Inilah tatapan seorang wanita yang mencintaimu tanpa syarat. Aku tahu aku punya masa lalu, tapi demi Tuhan, tidak ada yang melanggar norma di sana. Aku ingin kamu menjadi orang pertama yang benar-benar kucintai dengan seluruh hatiku."

Aku? Aku hanya diam. Bebal. Aku merasa "terancam" oleh ketulusan itu. Aku merasa jika aku menerima payung yang dia tawarkan, aku akan kehilangan kendali atas diriku. Maka, aku membiarkannya berdiri di sana, sendirian dengan cintanya yang tawar.

Lalu ada mahasiswi lain. Temannya pernah bilang padaku, "Coba lihat tatapan dia ke kamu, Rif. Itu penuh cinta."

Tapi aku? Aku tetaplah aku. Si bungsu yang merasa dunia berutang padaku. Aku mendengar mereka menyukaiku lewat bisik-bisik teman, tapi aku pura-pura tuli. Aku menganggap kegagalanku memahami perasaan mereka sebagai bentuk "tidak mau mempermainkan," padahal sebenarnya itu adalah bentuk pengabaian yang paling kejam.

Sampai akhirnya, telepon itu datang beberapa tahun kemudian.

"Arif, aku mau menikah," suara itu terdengar tenang dari seberang sana. Suara si bidan yang dulu pernah menatapku penuh harap.

"Oh, selamat ya," jawabku enteng. Terlalu enteng. Bahkan mungkin terdengar seperti penghinaan bagi seseorang yang pernah mempertaruhkan hatinya untukku.

Aku tidak tahu apakah dia menangis setelah telepon ditutup. Aku tidak melihat auranya. Aku hanya merasa, "Oh, satu lagi orang yang akhirnya menyerah."

"Yah, kopinya sudah dingin. Masuk, yuk. Nanti masuk angin," suara istriku memecah lamunan.

Dia berdiri di ambang pintu, membawa handuk kecil. Istriku—wanita yang akhirnya membuatku sadar bahwa dicintai jauh lebih utama daripada mencintai. Dialah orang yang pengorbanannya sering membuatku terjaga di malam hari karena rasa kasihan dan haru yang tak terbendung.

Aku menatapnya, lalu menatap hujan.

Baru sekarang aku paham. Dunia insecure dulu memang membuatku buta. Aku mengira aku gagal mencintai, padahal sebenarnya aku hanya gagal menyadari bahwa aku sedang dikelilingi oleh orang-orang yang siap menjadi payung sebelum hujanku turun.

Aku bangkit, berjalan masuk, dan memeluk istriku. Dia bingung, namun membalas pelukanku dengan hangat.

"Kenapa, Yah?" tanya dia heran.

"Nggak apa-apa. Cuma baru sadar, kalau punya payung itu harus dibuka, bukan cuma disimpan," bisikku.

Aku tidak menyesali masa lalu itu. Dua puluh tahun sudah cukup untuk mengubah penyesalan menjadi sebuah doa: semoga mereka yang dulu pernah menawariku payung, kini telah menemukan orang yang bersedia kehujanan bersama mereka, atau setidaknya, orang yang langsung membuka payung itu saat awan mulai mendung.

Sedangkan aku? Aku sudah punya payungku sendiri sekarang. Dan kali ini, aku tidak akan membiarkannya terlipat sampai berdebu.

SELESAI


Friday, January 24, 2020

Ebook Layla majnun


"Cinta adalah api, dan aku adalah kayunya"
Judul sebuah jurnal yang membahas kisah cinta Layla dan Majnun dalam misteri mistifilasi dunia sufi.
Berikut adalah e-booknya, silahkan dibaca :

Dan ini kuliah tentang kisah cinta Layla dan Majnun versi audiobook oleh DR. Fairuz Faiz


Dan terakhir, dugaan desa tempat kisah cinta Layla dan Majnun terjadi di Arab Saudi oleh tv lokal.

Thursday, January 23, 2020

Total Pageviews

Followers

Archive

 

© 10-5-2014 Empuss miaww. All rights resevered. Designed by Diubah karena banyak script anehnya

Back To Top