Monday, July 6, 2015

TETANGGAKU KAY, SEORANG GAY

9:42 PM



Suasana sore yang nyaman di sebuah gang perumahan, anak – anak bermain dengan gembira, dan para orang tua sedang sibuk merumpi di teras rumah masing – masing bersama tetangga mereka yang berkunjung ditemani gorengan dan teh manis.

“kamu pernah dengar desas – desus tentang Nugroho?” tanya Reza membuka pembicaraan dengan Tomi diteras rumah Tomi.

“belum dengar, desas – desus tentang apa?” tanya Tomi ingin tahu.

”Nugroho itu seorang homo, nama panggilannya Kay dikalangan mereka”

“terus jika dia seorang homo, kenapa?” tanya Tomi.

“ya berbahaya bagi lingkungan ini, coba misalnya suatu hari dia melamar kamu?”

“berbahaya bagaimana, aku sering kerumah dia kok, nonton bola tengah malam, dan tidak diapa – apain sama dia” bantah Tomi.

“masa?”

“lah iya, bahkan sering sampai ketiduran dirumah dia sampai pagi, ngga pernah dia menyentuh diriku”

“ mungkin karena kamu sudah berumur, jadi tidak menarik bagi dia” kata Reza sambil terkekeh.

“Dasar” kata Tomi sambil melempar kerak gorengan ke arah Reza.

“Lagipula, sebagai tetangga yang baik, kita harus menghormati privasi dia dong, suka – suka dia mau lakuin apa dirumahnya, tidak usah sok sucilah, mau dia bawa pasangan homonya kerumah, itu urusan dia, kita harus menghormati kehidupan pribadinya, hidup kita dilingkungan ini selama ini damai – damai saja kok” lanjut Tomi.

“susah ngomong sama kamu, dikit – dikit bicara sok suci, dikit – dikit bicara harus menghormati kehidupan pribadi orang lain, padahal sebagai orang yang hidup bertetangga, kedamaian yang terjadi di lingkungan kita itu karena usaha kita menjaganya, demi masa depan anak – anak kita, segala upaya yang merusak kedamaian itu selalu kita tanggulangi bersama, makanya sering – sering ikut wiridan, gotong royong, poskamling, bukan nonton bola dibanyakin” balas Reza.

“lho, diriku kan sudah membayar semua iuran, iuran kematian, iuran wiridan, iuran gotong royong, iuran poskamling, jadi kalo tidak hadir kan tidak masalah, sudah diwakili oleh rupiah” kata Tomi dengan cuek.

“Hm...” Reza menghela nafas panjang setelah berdebat dengan Tomi, dia sudah kehilangan kata – kata.

***

Tengah malam itu, siaran pertandingan sepak bola sedang berlangsung di televisi dirumah Kay, para suporter pendukung masing – masing kesebelasan sedang bersorak dan saling mengejek lawannya, pertandingan berlangsung seru, dan harus berhenti saat jeda.

Tomi merasa haus, dia pergi kedapur Kay untuk mengambil minuman dingin, sampai disana ia melihat Kay sedang membuka kulkas dan juga mengambil minuman dingin dari dalamnya.
“banyak temanmu datang, Kay” kata Tomi.

“Ya begitulah, menjadi tempat berkumpul” jawab Kay sambil tersenyum.

“pria muda semua nih yang datang”

“sengaja aku undang, aku lebih suka berteman dengan brondong tanggung daripada berteman dengan orang – orang yang lebih tua”, Kay tertawa setelah mengucapkan kalimat tersebut, sambil mengedipkan matanya kepada Tomi.

Tomi tertegun mendengar perkataan Kay, sejenak pikirannya kembali ke masa lalu mengenang percakapannya dengan Kay.

“Aku itu menjadi gay mungkin semenjak dari bayi” kata Kay ditengah siaran pertandingan bola.

“lho, kok bisa kamu menjadi gay semenjak dari bayi?” tanya Tomi.

“karena aku dibesarkan oleh orang tua yang seorang gay, dan hidup serumah dengan pasangannya”

“jadi, kamu pernah diperkosa oleh orang tuamu?” tanya Tomi lagi.

“oh, nggak pernah malahan, malah mereka menyayangiku, tapi kehidupan mereka yang gay membuatku berpikir, bahwa homoseksualitas itu adalah realitas yang nyata”.

“seperti dirimu yang aku lihat, kamu mirip dengan kedua orang tuaku, meskipun kamu menikah dengan wanita, namun aku merasa jika kamu bisa menerima kalau anakmu menjadi seorang gay” kata Kay.

“mungkin iya, mungkin tidak, yang penting urusan kebahagiaan kamu itu urusan masing – masing, dan aku tidak peduli”. Jawab Tomi tidak yakin.

 Tiba – tiba Kay membelai bahu Tomi, membangunkan lamunan Tomi tentang percakapan mereka dimasa silam.

“Tomi, pertandingan bolanya sudah dimulai”.

“oh iya, sudah mau mulai ya?”

Merekapun kembali ke ruang tengah, menonton pertandingan bola yang sedang berlangsung kembali.

***

“Aduh, sakit ibu” teriak Adit kepada ibunya dikamar mandi.

“Kenapa nak?” tanya Sumi, istri Tomi, kepada Adit sambil berlari dari dapur menuju kamar mandi.

Ceceran darah menetes membasahi lantai kamar mandi, darah segar yang baru saja keluar dari luka yang berasal dari celana Adit, buru – buru Sumi membuka celana Adit, dan dia menjerit melihat luka menganga pada bokong Adit.

Tomi yang saat itu duduk didepan, berlari ke kamar mandi untuk melihat apa yang sedang terjadi, tiba – tiba lututnya lemas tak berdaya melihat anak kesayangannya terluka seperti ditusuk benda tumpul pada bagian bokongnya.

“Siapa yang melakukannya, nak?” tanya Tomi sambil tersedak sedih menahan tangisannya.

“Om Nugroho, pa...” kata Adit sambil menangis menahan sakit.

“Kapan dia melakukannya?”

“tadi siang, sepulang sekolah, Adit dipanggil om Nugroho, sambil menawarkan duit dan permen”

Tiba – tiba dunia menjadi gelap bagi Tomi, dan diapun teringat percakapannya dengan Kay beberapa waktu yang lalu.

“seperti dirimu yang aku lihat, kamu mirip dengan kedua orang tuaku, meskipun kamu menikah dengan wanita, namun aku merasa jika kamu bisa menerima kalau anakmu menjadi seorang gay” kata Kay.


*T A M A T*

Written by

0 komentar:

Post a Comment

 

© 10-5-2014 about,,,. All rights resevered. Designed by Diubah karena banyak script anehnya

Back To Top