Monday, July 6, 2015

Foto terkutuk dan altar suci

12:05 AM



Kemiskinan memang makanan empuk bagi orang – orang pemuja humanisme, gelas – gelas sampanye mereka yang senantiasa terisi saat pesta – pesta amal ataupun penyerahan penghargaan terhadap karya fotografi terbaik, mereka menjual tangisan – tangisan kelaparan dunia ketiga kepada penduduk dunia pertama dan dunia kedua dalam poros utara – utara untuk menuai simpati memperoleh penghargaan tertinggi atas karya mereka.

Tak terhitung sudah berapa milyar dollar habis dalam transaksi jual beli kemiskinan ini, lewat penjualan konsep – konsep yang mereka sebut “pengentasan kemiskinan” dari kampus – kampus mereka, lewat penjualan kampanye – kampanye “penghapusan kemiskinan” para kepala negara dunia ketiga, lewat platinum award penjualan album bertema kemiskinan, lewat putlizer award fotografi terbaik tentang kemiskinan, lewat peningkatan jumlah oplah surat kabar terjual dengan berita kemiskinan yang menguras air mata pembaca.

Aku tidak menyalahkan musisi yang berkarya menyuarakan kemiskinan ditengah kemakmuran masyarakat, aku tidak menyalahkan surat kabar yang memberitakan realitas orang – orang yang hampir mati kelaparan, aku tidak menyalahkan realitas foto bahwa kematian hadir ditengah mata dalam selembar foto.

Yang aku sesalkan adalah, saat para orang beragama merayakan kebahagiaan berbagi kurban di hari raya idul adha antara yang bekurban dan yang menerima kurban seolah saudara kandung yang lama terpisah, saat malam – malam menjelang idul fitri para petugas zakat mengetuk pintu janda, orang miskin dan anak yatim untuk membagikan zakat, dan sedikitpun mereka tidak memikirkan apa yang mereka lakukan karena takut berbuat riya...

Tiba – tiba kaum pemuja humanisme datang membawa berita mereka, foto mereka, musik mereka, sastra mereka menyalahkan moral orang yang beragama bahwa mereka tidak punya nurani terhadap pelacur disini dan disana, orang – orang busung lapar yang hampir mati, dan sebagainya, bertindak sebagai hakim bukan sebagai pembawa berita, “orang beragama munafik”, dinegara beragama, moral dipertanyakan bukan tindakan, kata para humanisti.

Entah ada hubungan apa antara munafik dengan kemiskinan? Tentu saja orang – orang beragama terkejut, karena mungkin fokus mereka membantu orng yang dekat dengan lingkungan mereka untuk dibantu pertama kali, bukan untuk orang yang jauh lokasinya dari mereka.

Apa yang kusebut dialog – dialog antara dua pihak tidak terjadi, kaum pemuja humanisme telah bertindak sebagai hakim agung dari negeri suci belahan utara, yang menimbulkan antipati kaum agamis kepada mereka, kaum pemuja humanisme membawa setitik konflik diantara sejuta keharmonisan nusantara yang bernama, syiah sampang, ahmadiyah, dan kasus – kasus lainnya, seolah mereka malaikat suci.

Adakah kantor mereka, rumah mereka, gaji mereka dipergunakan untuk membantu orang – orang yang mereka sebut minoritas? Atau mereka hanya menjual kasus dinegeri ini demi mendapatkan nobel perdamaian untuk mengisi lemari mereka? Solusi apa yang mereka tawarkan untuk mengatasi realitas kemiskinan?

Tak kulihat bagaimana aktifis humanisme berjuang menghapus tembok yahudi di Israel, kelaparan di rohingnya, kemiskinan akut di papua nugini dan timor leste, entah kenapa fokus mereka hanya terpaku kepada negara - negara yang sudah stabil.

Bahkan kurasa erasmus pun menangis dalam kuburnya, melihat humanisme yang dia kemukakan dijadikan bisnis oleh kaum pemujanya, ngomong – ngomong soal erasmus, entah kenapa aku tertawa melihat realitas kemunafikan kaum pemuja humanisme, dinegeri asal erasmus, kesetaraan antar penduduk sangat dihargai, kecuali untuk inlander – inlander yang berada disebuah negeri bernama “hindia belanda”

Ku kutip perkataan terakhir kevin carter, pemenang putlizer 1993 yang melahirkan foto fenomenal sampai saat ini, namun akhirnya bunuh diri, karena tekanan batin nurani manusia menghujam seluruh tubuhnya saat teringat obyek fotonya dicabik – cabik burung bangkai dan dia tidak menolong anak tersebut sedikitpun.


"I'm really, really sorry. The pain of life overrides the joy to the point that joy does not exist... depressed ... without phone ... money for rent ... money for child support ... money for debts ... money!!! ... I am haunted by the vivid memories of killings and corpses and anger and pain ... of starving or wounded children, of trigger-happy madmen, often police, of killer executioners ... I have gone to join Ken if I am that lucky."

He said: Dear God,
I promise I will never waste my food no matter how bad it can taste and how full I may be. I pray that He will protect this little boy, guide and deliver him away from his misery. I pray that we will be more sensitive towards the world around us and not be blinded by our own selfish nature and interests.  
I hope this picture will always serve as a reminder to us that how fortunate we are and that we must never ever take things for granted.
Please don’t break.. keep on forwarding to our friends On this good day. Let’s make a prayer for the suffering in anywhere anyplace around the globe and send this friendly reminder to others “Think & look at this… when you complain about your food and the food we wasted daily……..

Written by

2 komentar:

  1. pertamax, xixixi lucu juga ya? mereka menyalahkan agama dan negara terhadap persoalan manusia? nah mereka sendiri sudah berbuat apa? atau mereka cuma berkutat dengan buku dan pena, dengan laptop yang terkoneksi internet, tanpa pernah tahu, diluar sana ada gerakan berbagi nasi, ada gerakan 1000 sepatu untuk anak yatim, ada gerakan indonesia mengajar hingga ke pelosok-pelosok hutan nusantara, tanpa menunggu pemerintah, tanpa menyalahkan keadaan, mereka berbuat karena nilai agama yang mengisi dadanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya zuk, bahkan gerakan untuk memerangi kemiskinan yang zukri jelasan sampai lupa aku tulis, yang teringat zaat

      Delete

 

© 10-5-2014 about,,,. All rights resevered. Designed by Diubah karena banyak script anehnya

Back To Top