Sunday, July 15, 2012

ATHEIS GALAU II

11:00 PM


Dan Tidaklah Aku Menciptakan Jin dan Manusia Kecuali untuk Beribadah Kepada-Ku (Adz Dzariyat : 56)



Selain permasalahan “surga – neraka”, atheis merasa ketiadaan Tuhan karena surga yang terlalu kecil untuk menampung seluruh manusia, terlalu banyak manusia yang akhirnya akan berakhir menuju neraka, ini menurut saya pencarian yag sangat aneh, mereka menuntut kaum beragama untuk berpikir secara logika dan sistematis, namun sayang sekali, mereka menampakkan perasaan mereka kedalam alur berpikir mereka, apakah mereka yang melakukan kesalahan pencarian ataukah pikiran mereka di permainkan oleh perasaan mereka?

Kesimpulan akhir bahwa mengapa hanya sebahagian manusia masuk ke surga, menandakan kefrustasian mereka selama proses pencarian, mereka tidak mengetahui mengapa mereka sudah terlanjur tercipta, mereka melepaskan diri dari hukum – hukum agama yang membelenggu manusia, mereka percaya bahwa kebaikan akal budi berdasarkan pada sifat manusia yang menyukai kebaikan… (deuh indahnya,,, xixixi).

Padahal fenomena mengapa manusia tercipta, dan mengapa alam tercipta adalah suatu hal yang menandakan bahwa manusialah sebagai objek pelakunya bukan sebagai subyek pelakunya. Manusia tercipta untuk beribadah kepada Tuhan dan alam menjadi sarana untuk beribadah kepada Tuhan. Manusia sudah tercipta itu hal yang telah terjadi, tinggal mencari alasan mengapa mereka harus tercipta di alam dunia ini.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan lanjut dan bumi (seraya berkata), “Ya Robb kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka dipeliharalah kami dari siksa neraka.” (QS.3:190-191)

Saat mereka mulai merasa telah lepas dari agama, kemudian merekapun berpikir, bahwa alam ini mampu tercipta dengan sendirinya. Setiap penemuan terbaru dari ilmu pengetahuan selalu menambah keyakinan mereka bahwa alam ini mampu melepaskan diri dari hukum – hukum Tuhan beralih menuju hukum – hukum  yang telah ditemukan oleh manusia. Secara tidak langsung mereka telah mengatakan “hal yang terbesar untuk diriku adalah kemampuan akalku untuk menjelaskan apapun yang terjadi pada dunia ini” yang saya singkat sebagai “tuhanku adalah akal dan budiku”.

Keseimbangan yang terjadi di dalam alam raya bagi mereka bukanlah tanda – tanda keberadaan Tuhan yang mengatur alam ini agar  tetap bergerak sesuai koridor yang berlaku (Sunatullah). Keberadaan Tuhan menurut pengembangan hasil berpikir mereka, haruslah suatu dzat yang dapat di terima oleh panca indera mereka.

Secara tidak langsung mereka menghina Tuhan dengan mengatakan bahwa Tuhan adalah dzat yang sama dengan apa yang ada di alam semesta. Secara tidak langsung mereka berkata bahwa Tuhanpun harus tunduk pada hukum – hukum yang berlaku di alam ini. Bukan terlepas dari dzat – dzat yang membentuk alam dunia ini. Tuhan haruslah bisa masuk kedalam akal mereka, dapat terlihat dan dapat terukur. Bilangan – bilangan tidak terhingga akan lebih besar dari Tuhan itu sendiri. Naudzubillah min dzalik….

Kaum atheis,,, kapankah logikamu tidak berdasarkan kepada perasaanmu?

Sekedar tulisan tanpa referensi,,, untuk konsumsi pribadi bukan di perdebatkan ^_^

Written by

0 komentar:

Post a Comment

 

© 10-5-2014 about,,,. All rights resevered. Designed by Diubah karena banyak script anehnya

Back To Top