Monday, April 7, 2014

Pemimpin adil tapi non muslim atau pemimpin tidak adil tapi muslim? Bagian 2

12:49 AM





Pernahkah anda berbicara dengan orang linglung? Atau orang yang ingatannya kurang? Mereka tentu saja dapat berbicara, namun anda tidak akan menganggap apapun yang mereka bicarakan, karena :

P1. Pembicaraan mereka tidak berdasarkan fakta

  2. Asal cuap saja saat berbicara

Seperti itulah pemikiran saya saat ada orang yang tiba – tiba berbicara ataupun mengangkat opini bernada retoris “Pemimpin adil tapi non muslim atau pemimpin tidak adil tapi muslim?”, jika saja tersangka koruptor ataupun pemimpin yang korup di Indonesia 100% muslim maka saya akan mendukung statement tersebut.

Namun nyatanya, semenjak reformasi bergulir, orang – orang yang terlibat kasus korupsi tidak semuanya muslim, mereka ada juga non muslim, contohnya Miranda Gultom (mantan deputi BI), Robert Edison Siahaan (Walikota Pematang Siantar Periode 2005-2010), Fahuwusa Laila (Mantan Bupati Nias Selatan), Binahati B. Baeha (Mantan Bupati Nias), Jefferson Soleiman Montesqieu Rumajar (Walikota Tomohon Periode 2005/2010), Yusak Yaluwo, SH, M.Si (Bupati Boven Digoel periode 2004-2009), Jules Fitzgerald Warikar (Bupati Kab. Supior Prov. Papua), Jimmy Rimba Rogi (Walikota Manado Provinsi Sulawesi Utara), John Manoppo (Mantan Walikota Salatiga). (Sumber merdeka.com)

Sengaja saya tuliskan nama – nama mereka ditulisan ini, karena sejatinya kasus korupsi itu bersifat LINTAS AGAMA, bukan milik salah satu agama, korupsi marak terjadi di Indonesia karena kurangnya ketegasan hokum dan pengawasan keuangan di Negara kita ini.

“Trus, mayoritas koruptor muslimkan?” =รจ tentu saja, sebagai Negara pemeluk Islam terbesar di dunia, agama para koruptor tentu saja islam, dimana pelaku kejahatan biasanya pemeluk agama terbesar di negara tersebut, namun apakah mereka muslim (menjalankan agama islam dalam kesehariannya)? Belum tentu, mereka dapat kita sebut sebagai penduduk beragama berdasarkan KTP.

Sebaliknya, dinegara luar Indonesia, yang mayoritas penduduknya non muslim, dapatkah kita menuduh agama para koruptor tersebut sebagai agama pendukung korupsi? Seperti Aquino dan Estrada di Philipina, ataupun Sinawatra di Thailand, serta Sarkozi di Perancis? Tidak, para koruptor tersebut melakukan korupsi karena keinginan memenuhi nafsu keduniaan mereka sendiri, bukan karena tuntunan agama yang mereka anut.

Kembali keatas, pada kalimat “Pemimpin adil tapi non muslim atau pemimpin tidak adil tapi muslim?”,  sebenarnya menunjukkan garis politik yang didukung oleh pihak yang mengeluarkan statement tersebut, mereka mengerahkan segala cara, agar tidak ada lagi jalan mengelak bagi orang lain selain mendukung jagoan mereka dengan mengeluarkan statement yang “Sepertinya” sulit untuk dijawab, namun bagi saya merupakan retorika logicall fallacy akut (kesalahan pengambilan kesimpulan yang parah banget).

Maka daripada memikirkan kalimat menyeleneh mereka, lebih baik jika kita anggap saja sedang berbicara dengan orang linglung, atau orang yang kurang ingatan, demi menghemat energy emosi kota.

Written by

0 komentar:

Post a Comment

 

© 10-5-2014 about,,,. All rights resevered. Designed by Diubah karena banyak script anehnya

Back To Top