Friday, July 3, 2015

Disuruh untuk menikah lagi

7:14 PM

Pagi – pagi adalah waktu yang sangat menenangkan bagi diriku untuk duduk diteras rumah menikmati suasana alam yang indah, melihat mentari terbit, dan mendengar suara burung berkicau yang sangat menenangkan hati.
Tak beberapa lama, istri tercintaku pun datang membawa gorengan dan segelas kopi, sambil tersenyum, dia meletakkan panganan pagi diatas meja dan sekaligus ikut duduk dibangku samping meja menemani diriku.
“mas, masih ingat mbak rani?” tanya istriku.
Mbak rani, seorang janda muda yang baru saja ditinggal mati oleh suaminya dua tahun lalu dalam sebuah kecelakaan maut di jalan raya, dalam pikiranku.
“Oh, mbak Rani? Ingat” kataku sambil kopi diatas meja dan mulai menyeruputnya.
“bagaimana kalau mas melamarnya sebagai istri kedua?” kata istriku tiba – tiba.
“bruuutttt” cairan kopipun menyembur dari mulutku membasahi lantai.
“mama ngomong apa sih?” kataku sambil menyeka mulut.
“mama serius ini mas, mama kasihan sama mbak rani harus menghidupi seorang  anaknya seorang diri tanpa suami”
“ah, papa mau kekantor dulu, sudah telat” kataku sambil kabur dari percakapan yang membuatku terkejut.
***
Jalanan menuju kantor macet pagi itu, sambil menunggu lampu merah, pikiranku melayang pada percakapan tadi pagi, jujur saja, menikah lagi, disuruh istri pula, siapa sih yang ngga mau, batinku.
Dan bayangan tentang rani pun melayang dalam pikiran, rani, seorang wanita yang cantik, lembut dan keibuan, beda dengan istriku yang agak keras dalam mempertahankan pendapat yang dia anggap benar.
Tentu menikahinya sangat membahagiakan bagi seorang pria, dilayani dengan lembut dan penuh keibuan, menurut apa kata suami, pergi bersama ke kantor setiap harinya bersamaan, wah sebuah pengalaman yang menyenangkan dong.
“Teeetttt!”
Suara klakson mobil membuyarkan lamunan pagiku, oh, sudah lampu hijau rupanya, segera ku gas motor bututku untuk sampai ke kantor
***
“Arga, bagaimana pendapatmu soal menikah kembali, disuruh oleh istri lagi” tanyaku kepada Arga, teman sekantor.
“Menikah kembali? Apa sedang ada permasalahan dalam keluarga mu?” tanya Arga sambil keheranan.
“Ah, tidak, keluarga kami masih harmonis kok” jawabku.
“terus, alasan istrimu menyuruh menikah kembali apa?”.
“karena dia kasihan dengan temannya yang seorang janda ditinggal mati, harus membesarkan seorang anak tanpa ada yang melindunginya”
“apa kamu siap, membagi waktu antara istri pertama dengan istri kedua?” tanya Arga kembali.
“Wah, siap dong, seminggu dirumah istri pertama, seminggu lagi dirumah istri kedua” jawabku yakin.
“soal anak gimana? Apa ngga bermasalah nantinya, yang satu anak kandung, sementara yang satu lagi anak tiri”
“tentu saja aku ngga mungkin membedakan mana anak kandung dan anak tiri, semua akan aku anggap anak sendiri”
“pendapatan kamu apa sudah mencukupi untuk dua keluarga?” tanya arga kembali.
“soal finansial aku rasa tidak bermasalah, calon istriku yang satu lagi sudah bekerja, sehingga jika aku melebihkan sedikit pendapatanku untuk istriku yang sekarang, aku rasa dia ngga keberatan”
“oh, ya sudah, berarti kamu sudah siap dong dengan konsekuensi pernikahan yang kedua, lebih – lebih kita kerja di perusahaan swasta, ngga ada aturan yang terlalu mengekang” kata Arga sambil kembali ke pekerjaannya.
Setelah berdiskusi ringan bersama Arga, keinginanku untuk menyetujui keinginan istriku untuk menikah kembali semakin besar, bukankah aku tidak sekedar menikah untuk bersenang – senang seperti pikiran orang tentang mengenai poligami? Aku bertanggung jawab untuk kedua keluarga, dan tentu saja aku akan berusaha seoptimal mungkin berbuat adil diantara istri – istriku nantinya.
***
Motorku baru saja sampai dihalaman rumah, dengan keyakinan diri untuk menyetujui keinginan istriku tadi pagi, kulihat Tyo, anakku sedang bermain dengan anak tetangga.
“Tyo!” panggilku
Tyopun berlari kearahku, seorang anak yang cerdas dan menghibur diriku saat pulang kerja.
“mama mana?” tanyaku.
“Di kamar mandi, lagi mencuci baju”
“Yuk, kita lihat mama” kataku.
Kamipun melangkah ke arah kamar mandi, kulihat istriku sedang membilas pakaian kami sekeluarga, sudah sering kubilang untuk membelikan dia sebuah mesin cuci agar tidak memberatannya, namun dia menolak, tidak sanggup membayar tagihan listrik katanya.
“Mama!” kataku dan Tyo memanggil istriku.
“eh papa, sudah pulang” katanya sambil menyeka keringat didahinya, diapun menghentikan pekerjaan rumahnya, dan keluar dari kamar mandi menuju kearah diriku dan Tyo berdiri, kukecup keningnya, seperti hari – hari biasanya, ada yang sedikit berbeda antara hari ini dengan hari – hari sebelumnya, ada rasa mengganjal didalam hati...
“sini, mama bawakan ransel mas, pasti capekkan, ayo Tyo turun dong, jalan sama mama ke kamar”
Kupandangi punggung istriku yang sedang berjalan bersama Tyo bergandengan tangan ke kamar, sambil bercerita berdua, rasa yang mengganjal dalam hati tadi mulai bersuara kepada diriku.
“Bukankah sebenarnya aku memiliki keluarga yang bahagia...?”
Istriku yang berjalan ini adalah seorang istri yang sangat istimewa, dia yang telah merawat dan memanajemen rumah tanggaku sehingga seperti ini, dia telah mencurahkan semua cinta dan perhatiannya agar rumah tangga kami selalu berjalan tanpa konflik apapun.
Dia membesarkan Tyo dirumah, menjaga kepercayaanku, semua pendapatanku kuserahkan kepadanya, dan dia membaginya secara proporsional sehingga kami tidak pernah merasa kekurangan meski aku tahu, sebenarnya pendapatanku itu tidak mencukupi.
Kekerasan kepalanya lebih didasari oleh kenyataan, dia tidak ingin menambah beban yang tidak perlu dalam keluarga ini, dia menghindari pertengkaran – pertengkaran dimasa depan akibat sedikit kesusahan yang sebenarnya bisa diatasi saat ini.
Hatiku terharu melihat besarnya pengorbanan istriku, relakah aku membagi kasih sayang yang seharusnya “utuh” untuk semua yang dia lakukan untuk diriku dengan wanita lain, meski dia yang menyuruhnya?.
“Papa, kok termenung sih?” teriak Tyo dari dalam kamar kami
“eh iya, bentar, tadi lihat handphone sebentar” kataku sambil ikut mereka ke kamar.
***
Malam itu, setelah Tyo tidur di atas tempat tidur, aku mengajak istriku berbicara soal percakapan kami tadi pagi.
“Mama, masih ingat dengan Arga kan?” tanyaku
“Mas arga? Masih mas...” katanya.
“tadi pagi mas sudah berbicara dengan Arga, berhubung Arga juga seorang duda tanpa anak, maka mas berpikir untuk menjodohkan Rani dengan Arga, mana tahu mereka berdua cocok” kataku berbohong, sambil berpikir keras bagaimana untuk berbicara dengan arga esok hari soal Rani.
“Oh, begitu mas, ya sudah, nanti kalo sudah mas jelaskan soal mbak Rani kepada Mas Arga, nanti mama bilangin ke Mbak raninya” kata istriku.
=TAMAT=

Written by

0 komentar:

Post a Comment

 

© 10-5-2014 about,,,. All rights resevered. Designed by Diubah karena banyak script anehnya

Back To Top