Monday, August 24, 2015

White Lily

11:13 PM



Opa fredi wafat pagi tadi, suasana berkabung masih teras di tempat penampungan jompo itu, jasadnya baru saja dijemput oleh keluarganya untuk disemayamkan dikampung halamannya.

Keluarganya menolak proses autopsi terhadap jasad opa Fredi, seperti yang diminta oleh pihak kepolisian untuk mengetahui penyebab utama kematian opa Fredi, mereka menganggap proses autopsi akan memperlambat proses pemakaman nya, bagi mereka kepergian opa Fredi adalah sebuah kepastian, bukan sebuah hal yang harus di per tanyakan kembali.

Setiap ada yang wafat di panti jompo itu, pihak polisi senantiasa dilibatkan, yayasan tidak ingin bermasalah dengan hukum jika terjadi sebuah tindak kejahatan di tempat yang mereka kelola.

Lily masih berada didalam kamar opa Fredi memandang taman bunga diseberang jendela, pandangannya tertuju kepada bunga Lily on valley dan autumn crocus yang ia tanam sendiri disana, bagi pimpinan dan para rekan sejawatnya, Lily masih berduka atas kematian opa Fredi, mereka memang dikenal sangat dekat sebelum kematian orang tua itu yang mendadak.

“Lili...” sebuah suara memanggil dari pintu kamar.

Lili menyeka air mata diwajahnya dan kemudian melihat ke sumber datangnya suara, Inspektur Satu Wahyu berada disana, lengkap dengan seragamnya berdiri dipintu.

“bolehkah saya masuk?”

“oh... iya, silahkan masuk”

Wahyu kemudian masuk kedalam kamar itu, mengambil kursi di sudut ruangan dan menaruhnya disamping Lili, mereka berdua memandang taman yang dipenuhi bunga diluar jendela.

“anda baik – baik saja?”

“ya, saya baik – baik saja”

“saya lihat ada bunga disana, bunga apakah itu, cantik sekali”

“itu bunga Lily on the valley dan bunga autumn crocus

“indah sekali, siapakah yang menanamnya?”

“saya sendiri”

“ saya tidak menyangka, tangan anda dingin juga dalam hal tanaman”

“saya sudah terbiasa bercocok tanam semenjak masih kecil, ada yang bisa saya bantu?”

“oh... ya... saya hanya ingin melihat anda saja, untuk menanyakan kabar saja”

“hm... bagaimana kepolisian memandang meninggalnya Opa Fredi?”

“ karena pihak keluarga menolak proses autopsi, dan menurut pihak yayasan tidak ada tanda kematian yang mencurigakan, mungkin polisi menetapkan untuk sementara kematian opa Fredi dalam keadaan wajar”

“ya, sebagai seorang yang merawat beliau sampai beliau wafat, saya merasa bersalah jika ada tindakan saya yang menyebabkan opa Fredi meninggal...”

“tidak... tidak ada... bahkan menurut pimpinan anda, anda bekerja dengan baik sekali”

“sudah tujuh pasien yang saya rawat meninggal...”

“namun kami belum menemukan kejanggalan dalam kematian mereka, hal wajar jika kematian terjadi pada orang – orang yang berusia lanjut usia, lagipula semua keluarga mereka menolak autopsi dan tentu saja, pasien yang anda rawat tidak hanya mereka bertujuh, sehingga jika tidak menemukan kejanggalan, tidak mungkin kami sembarangan menuduh anda bukan? Jangan terlalu dipikirkan, anggap semua ini resiko dalam bertugas”

“oh ya, tadi saya telah berbicara dengan pimpinan anda, dia memberikan waktu untuk cuti selama sebulan, karena pimpinan anda merasa kematian opa Fredi akan mengguncang emosi anda”

“benarkah, saya tidak tahu jika pimpinan saya memberikan cuti untuk saya, karena memang saya belum berbicara dengan beliau”

“dia memberikan cuti tadi saat saya berbicara masalah kematian opa Fredi, jika mungkin anda masih ragu, anda dapat berbicara kembali dengan pimpinan anda”

“tidak perlu, ya... saya merasa sedikit kelelahan dengan tugas saya, dan ingin beristirahat selama beberapa waktu”

“saya dengar anda sering pulang dengan menggunakan angkutan umum, bagaimana jika saya mengantarkan anda?”

“tapi... apakah tidak merepotkan anda? Tentunya anda harus segera kembali kekantor untuk bertugas”

“tidak masalah, kebetulan tugas saya sudah habis siang ini, bagaimana dengan tawaran saya?”

“baiklah, saya akan bersiap dulu sebelum pulang, jadi...”

“saya akan menunggu anda diluar” kata Iptu Wahyu sambil tersenyum.

***

Mobil Iptu Wahyu berjalan merambat menyusuri jalanan kota, sudah 15 menit mereka berdiam diri didalamnya, bingung karena tidak tahu harus berkata apa.

Iptu Wahyu memang mengagumi kecantikan Lily, diantara perawat manula dipanti jompo itu, Lily lah yang paling cantik, rambutnya yang lurus, badannya yang ramping, bulu matanya yang lentik dan kulitnya yang sawo matang dapat mempesona setiap lelaki.

Namun bukan itu yang menarik perhatian Iptu Wahyu terhadap Lily, sosok Lily yang dingin dalam bersikap namun cekatan serta hangat dalam melakukan tugasnya sebagai perawat panti jompo yang membuat Iptu Wahyu ingin lebih dekat, ia membutuhkan sesosok wanita yang keibuan menemani dirinya dan terutama Randi, putranya, yang telah kehilangan ibunya yang telah meninggal saat melahirkan dirinya.

Sosok iptu Wahyu yang duda beranak satu memang sudah tersebar diantara teman – teman Lily, namun ia tidak tertarik untuk mengetahuinya lebih dalam, tidak seperti rekan sejawatnya yang masih lajang, senang jika pria tampan itu datang ke tempat mereka bekerja.

“kamu sering pulang sendiri dengan angkot, Lily?” tanya Iptu Wahyu yang tidak ingin memakai formalitas dalam berbicara dengan Lily.

“ya, saya memang suka memakai angkutan kota untuk berpergian”

“kendaraan kamu kemana?”

“saya tidak suka memakai kendaraan, lebih nyaman jika saya menggunakan angkutan umum, dapat melihat sisi kota dengan lebih realistis”

“tidak takut?”

“saya rasa tidak ada yang perlu ditakuti saat memakai angkutan kota, karena kebetulan saya hampir tidak pernah keluar malam, dan jadwal bekerja saya semuanya dipagi hari”

“soalnya baru – baru ini terjadi kasus pembunuhan misterius dikota ini”

“pembunuhan?”

“iya, pihak kepolisian masih mendalam keterkaitan antara pembunuhan itu”

“kenapa bisa terkait? Bukan dianggap pembunuhan biasa”

“ada pola – pola tertentu yang masih kami selidiki, sudah dua orang korbannya”

“pola seperti apa yang ada dalam pembunuhan itu?”

“menurut kami, pembunuhnya seorang yang sangat kejam, ia menggantung korbannya di pohon hutan dengan keadaan yang masih mengeluarkan darah”

“kenapa bisa disimpulkan sebagai sebuah pembunuhan berantai”

“ada jejak kesamaan bekas alat yang digunakan oleh si pembunuh, sebuah benda tajam, perkiraan awal kami adalah kapak”

“kapak?”

“iya, seolah korban digantungkan diatas pohon sebagai undangan bagi kami untuk mengungkap pembunuhnya”

“wah, sebuah hal yang mengejutkan... kota yang damai ini bisa terjadi pembunuhan”

“iya, makanya saya rasa sebaiknya kamu pulang dengan teman, tidak sendiri lagi”

“wah, saya tidak memiliki teman yang satu jurusan pulang dengan saya”

“mungkin pacarmu bisa mengantarkan pulang dan pergi kerja”

“pacar? Saya belum memiliki pacar”

“ah masa? Wanita secantik kamu...”

“belum memiliki pacar? Soal kekasih belum terpikirkan dalam otak saya, tugas saya dalam pekerjaan terlalu banyak”

“maaf jika saya menyinggung anda...”

“oh, tidak apa – apa, pimpinan dan rekan sejawat saya sering berusaha menjodohkan saya, namun saya tidak banyak tertarik”

“berarti kamu tidak suka dengan sebuah hubungan, barangkali”

“tidak juga, seperti yang saya katakan, saya belum memikirkan menjalin sebuah hubungan”

Keheningan tercipta diantara mereka, tidak ada yang bisa menebak apa yang ada didalam pikiran Lily, namun kata – kata Lily yang mengatakan dia belum memiliki kekasih membuat sebuah kelegaan dalam hati Wahyu.

Mobil Iptu Wahyu memasuki sebuah pekarangan rumah yang cukup luas, sebuah rumah yang diwariskan kepada Lily dari tante Ayu, seorang pasien yang pernah dirawat oleh Lily dipanti jompo.

***

Tante Ayu memang tidak memiliki seorang keluargapun, dia hidup sebatang kara, dan dengan Lily, ia menganggap Lily sebagai anak sendiri setelah tante Ayu memutuskan tinggal dipanti jompo, ia membutuhkan teman berbicara, bukan kesunyian dimasa tuanya.

Sebelum meninggal, tante Ayu sudah memutuskan bahwa Lilylah pewaris semua hartanya, pekerjaannya dimasa muda sebagai seorang aktivis dan penulis di bidang wanita, memberikannya cukup bekal dimasa tuanya untuk hidup dari royalti buku – buku yang pernah ditulisnya.

Lily tidak tertarik dengan harta, sepeninggal tante Ayu, semua harta, kecuali rumah, ia sumbangkan ke badan – badan amal, baginya sebuah rumah cukup, tidak lebih.

“Lily, kita sudah sampai dirumahmu, asri sekali”

“iya, rumah peninggalan tante Ayu, anda berminat untuk bertamu?”

“oh tidak, saya ada janji dengan Randy untuk membuat PR malam ini, kira – kira kamu keberatan jika saya bertamu besok sore? Dengan anak saya?”

“wah, bagaimana ya...”

“tidak apa – apa, Randi bukan anak nakal kok”

“boleh, maksud saya tadi bukan menolak, namun tentu saya ingin menjamu tamu saya sebaik mungkin”

“tidak perlu jamuan yang aneh – aneh, mungkin kita dapat rekreasi ke kota bertiga”

“baiklah, saya tunggu esok malam”

***


Sudah tiga minggu semenjak Iptu Wahyu sering kerumah Lily, hampir tiga hari sekali Iptu Wahyu datang bertamu, terkadang bersama anaknya, terkadang ia datang sendiri.

Malam itu Lily baru pulang nonton bioskop bertiga bersama Wahyu dan anaknya, Lily tidak merasa canggung dengan Randy, bahkan mereka akrab, terkadang mereka tertawa berdua sambil bergurau dan menebak akhir cerita film di bioskop.

“Aku cantik, kan?” kata Lily kepada dirinya di depan cermin.

“Cantik dan sempurna, seperti bunga Lily, namun beracun, bagi yang terlalu terpesona keindahan diriku”

“satu... dua... tiga... empat... lima... enam... tujuh... tanpa jejak, tanpa curiga, tanpa kekisruhan, semua dalam ketenangan yang sunyi, semua korban adalah para manula yang tidak menarik perhatian orang lain jika mereka mati dibunuh”

Ada rasa aneh yang memasuki dada Lily, senyuman dingin terbentuk diwajah cantiknya, kepuasan bahwa ia dapat menentukan pasien mana yang ingin ia bunuh, dan pasien mana yang ia biarkan hidup, cukup dengan menggunakan racun yang berasal dari sulingan autumn crocus, yang setara arsenik, ia menghabisi nyawa manusia tanpa jejak dan tanpa kecurigaan polisi.

Kesempurnaan dalam seni membunuh adalah jika tidak terendus oleh orang lain, bagi Lily, bahkan jikapun jenazah korbannya di autopsi, ia yakin bahwa residu racun sulingan tangannya akan bersih.

“prang!”

Lily membanting gelas yang berada ditangannya, ia teringat perkataan wahyu soal pembunuhan yang baru terjadi di kota itu.

“Pembunuhan yang baru terjadi ini mungkin sebagai undangan kepada pihak kepolisian untuk mengungkapkan siapa pembunuhnya”

Bagi Lily sebuah tindakan narsitis dalam melakukan pembunuhan berantai dikota itu sebagai penghinaan terhadap keindahan seni membunuhnya yang tanpa jejak. Berarti sang pembunuh berantai itu telah mengejeknya dan mengajaknya perang secara terbuka.

Nafasnya naik turun menahan kemurkaan dirinya, ia memikirkan cara menghancurkan orang yang telah terang – terangan menantangnya itu, namun ia tidak tertarik untuk bertindak secara frontal dengan menunjukkan teknik membunuhnya, ia ingin mempermalukan sang pembunuh saingan dengan membuka topengnya dan modus yang ia gunakan.

 TOOT TOOOT… TOOT TOOOT.. DWUIIIIIIIOUT.. TOOT TOOOT…

Tiba – tiba rumah Lily diterangi oleh lampu mobil kepolisian, ia mendengar suara lars sepatu turun dari dalam mobil, nalurinya ingin berlari, namun insting dasarnya sebagai pembunuh menyuruhnya agar tetap tenang.

“SAUDARI LILY, KAMI DARI KEPOLISIAN, HARAP SEGERA KELUAR ATAU KAMI AKAN MEMAKSA MASUK”

Suara Iptu Wahyu dari mobil polisi menimbulkan keanehan didalam hati Lily, apakah tindakannya ketahuan, ataukah...


BERSAMBUNG...

Written by

0 komentar:

Post a Comment

 

© 10-5-2014 about,,,. All rights resevered. Designed by Diubah karena banyak script anehnya

Back To Top