Thursday, August 27, 2015

Pesona sang Inspektur

9:42 PM


SEBELUMNYA : WHITE LILY



“Tim satu, siap?” tanya Iptu Wahyu.

“Siap ditempat, komandan” jawab Andi.

“Tim dua, siap?”

“Siap, komandan”

“mata elang, bagaimana posisi objek?”

“objek sedang mengarah keluar, komandan” jawab penembak jitu yang bersembunyi dibalik pepohonan didepan rumah Lili.

“Ok, semua tim, bersiap dalam hitungan saya”

Lily sedang bersiap untuk keluar dari rumahnya, hatinya menduga – duga kesalahan apa yang diperbuatnya sehingga polisi dapat mengendus jejak pembunuhan yang dilakukannya dipanti jompo.

Saat ia membuka pintu dan melangkah keluar, sebuah pemandangan dihadapannya mengejutkannya.

“LILI, MAUKAH KAU MENIKAHI AKU?”

Sebuah spanduk besar yang terletak diatas deretan mobil patroli polisi membuat dirinya secara tidak sengaja menutup mulutnya dengan tangannya, dilihatnya Iptu Wahyu datang dari mobilnya kearah Lily sambil membawa sebuah kotak cincin.

“Lili, maafkan saya mengagetkan dirimu, maukah dirimu menjadi istriku? Dan ibu dari Randy?”

Lili baru saja lepas dari keterkejutannya, tiba – tiba sebuah ide terlintas dalam hatinya, bagaimana cara ia menghajar sang pembunuh misterius secara langsung...

***


“kasus ini sangat rumit” kata Komisaris Bobby setelah melihat laporan Iptu. Wahyu yang terletak diatas mejanya.

“dalam waktu enam bulan sudah ada tiga kali kasus pembunuhan dengan metode yang sama”

“kasus ini masih kami selidiki, pak” kata Iptu. Wahyu yang duduk diseberang meja Komisaris Bobby.

“sudah ditemukan motif pembunuh beraksi?”

“belum dapat, Pak”

“sudah ada saksi mata yang melihat kejadian?”

“sejauh ini belum ada saksi mata yang melihat kejadian di lokasi”

“bagaimana hasil dari bagian forensik?”

“menurut hasil pemeriksaan dokter Dodi, korban diduga dibunuh saat tengah malam, antara jam 10 malam sampai jam dua pagi, terdapat bekas penyekapan oleh pembunuh, ditandai dengan adanya tanda bekas ikatan tali ditangan para korban, para korban diperkirakan dibunuh dengan menggunakan benda tumpul, semua langsung dibagian kepala, dan dokter Dodi memperkirakan tidak semua korban meninggal langsung setelah dipukul benda tumpul tersebut, setelah itu baru korban dimutilasi dengan menggunakan benda tajam, dari diameter luka diperkirakan mempergunakan kapak”

“hal itu sudah ada dalam laporan anda, yang saya maksudkan, sepanjang pengalaman dokter Dodi, pernahkah kejadian seperti ini terjadi sebelumnya?”

“menurut dokter Dodi, sepanjang pengalamannya sebagai seorang dokter forensik, baru kali ini ia melihat kasus yang sadis seperti ini”

“Hal aneh, menurut bagian forensik, sidik jari tidak ditemukan, dan kasus seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya, sementara pembunuhnya bertindak seperti seorang yang telah berpengalaman” kata Komisaris Bobby sambil mengusap dagunya.

“Coba anda selidiki kembali hubungan antara kasus – kasus pebunuhan ini, jika sudah ditemukan benang merah penghubungnya, hubungi saya kembali”

“Siap, pak!” kata Iptu. Wahyu sambil berdiri dan memberi hormat kepada Komisaris Bobby.

***

“Bagaimana kata komisaris?” tanya Diana, rekan sekerja Wahyu.

“Harus diselidiki kembali untuk menemukan benang merahnya”

“yup, kasus yang cukup rumit, tanpa saksi mata, tanpa petunjuk, tanpa meninggalkan jejak apapun”

“cukup susah untuk membuat profil pembunuh dengan menggunakan tiga orang korban saja”

“benar, ketiga kasus ini tampak seperti kasus pembunuhan biasa saja”

“bagaimana menurutmu, Diana?”

“mungkin kita harus memulai dari kasus pertama terjadi dulu, pertama sekali lokasi kejadian, mengapa sang pembunuh memilih meninggalkan korban di hutan”

“ide yang bagus” kata Wahyu.

“selanjutnya kita menghubungkan identitas antara korban dan hubungan antara mereka”

“Baiklah, kita menuju lokasi pembunuhan pertama dahulu” jawab Diana.

“Naik mobil saya saja” katanya lagi, sambil melempar kunci mobil miliknya kearah Wahyu.

***

Jalanan kota penuh kemacetan siang itu, anak – anak sekolah baru pulang dari kegiatan belajarnya, mobil Diana terjebak dalam kemacetan itu, mereka terpaksa menunggu sampai kemacetan terurai.

“Bagaimana kabar istrimu?”

“Lily?”

“Ya, apakah dia sehat – sehat saja?”

“Dia sehat – sehat saja, dia mungkin sedang dirumah bermain dengan Randi sepulang sekolah”

“sudah tiga bulan kalian menikah”

“kami masih menyesuaikan antara kepribadian masing – masing, maklumlah jarak perkenalan dan pernikahan sangat dekat”

“jadi kalian memutuskan untuk tinggal di rumah Lily?”

“Dia tidak ingin meninggalkan rumah itu, banyak kenangan didalamnya, katanya”

“jadi, rumah lamamu tidak dipakai lagi?”

“Aku kontrakkan saja kepada orang lain, setidaknya bisa tetap terawat dan ada sumber pemasukan lain”

“Lily tidak bekerja lagi?”

“Tidak, ia memutuskan berhenti dari pekerjaannya dipanti Jompo”

“Bagaimana selama kalian menikah, sering bertengkar?”

“Oh, tidak, Lili orangnya tidak banyak bercerita, tipe pendiam, jadi terkadang aku mengajaknya bersenda gurau untuk menghilangkan kesuntukan dia selama dirumah, menurutku”

“bagaimana dengan proses perceraian dirimu, apakah sudah selesai?” tanya Wahyu kepada Diana.

“Minggu depan baru keluar keputusan dari hakim”

“aku tidak menyangka bisa berakhir seperti itu keluargamu”

“yah... biasalah, hal ini terjadi karena ketidak cocokan lagi”

“oh...”

“seperti itulah, komunikasi antara kami sudah jarang terjadi, dan kami sibuk dengan profesi masing – masing, ketiadaan anak juga menambah kehampaan diantara kami”

“Maaf, jika pertanyaanku menyinggung dirimu”

“tidak apa – apa, semua mungkin suratan takdir”

Kesunyian tercipta diantara mereka, sambil menunggu kemacetan terurai.

Ada yang mengganjal dalam hati Diana, ia pernah berkhayal untuk menikah dengan sosok seperti Wahyu yang meneduhkan dan memberikan keceriaan selama pertemanan mereka dalam bertugas.

Seharusnya ia lebih cepat bercerai sebelum Wahyu menikah lagi, pikirnya, namun semua sudah terjadi dan ia hanya bisa menjalaninya apa adanya.
Kemacetan mulai terurai, mobil merekapun bisa berjalan kembali, mereka mengarah ke tenggara, dihutan tempat pembunuhan pertama terjadi untuk pertama kalinya.

***


Garis polisi masih terlihat di tempat kejadian perkara, meskipun terlihat usang karena sudah enam bulan tempat itu ditinggalkan oleh pihak kepolisian.

Diana dan Wahyu  masih mengamati foto – foto pengambilan perkara saat pertama kali korban ditemukan didalam laptop wahyu, seorang pria berusia lanjut adalah korban pertama pembunuhan itu.

Korban pertama bernama Yudi, alias A Siu, peranakan tionghoa berusia 55 tahun, tingginya 167 cm, berat badannya 60 Kg, tinggal sendiri di rumahnya yang tidak terlalu ramai dengan tetangga di kiri dan kanan rumahnya.

“Bagaimana cara seseorang membawa korban dari mobilnya ditepi jalan masuk kedalam hutan?” tanya Wahyu

“Sepertinya dibopong oleh sang pembunuh, karena jika diseret mungkin akan banyak jejak tertinggal didalam hutan ini”

“coba bayangkan diriku membawa korban yang tingginya 167 cm yang berat dari dalam mobil menuju pohon ini, apakah tidak merasa susah saat dibopong, jaraknya lumayan jauh, sekitar 200 meter...”

“ada dua kemungkinan, mungkin sang pembunuh berpostur besar yang biasa membawa beban besar, atau juga korban masih hidup saat akan dibawa menuju tempat eksekusi” kata Diana

“coba lihat hutan ini, apa yang menarik dari hutan ini, sehingga sang pembunuh memilih tempat ini sebagai tempat ia melakukan aksinya pertama kali”

“hutan ini terletak disebelah tenggara dari kota, berjarak sekitar 45 km dari kota, butuh waktu paling cepat setengah jam untuk mencapainya, tidak ada penduduk yang tinggal diradius 10 km dari tempat ini”

“berarti tempat yang aman untuk melakukan aksinya tanpa ada saksi mata dari penduduk sekitar sini ya?”

“benar, bahkan untuk jam 10 malam keatas, pengemudi antar kotapun saya rasa tidak terlalu memperhatikan apa yang terjadi ditepi jalan, pikiran mereka pasti tertuju kearah kota yang sebentar lagi akan dicapai, merupakan tempat yang sempurna untuk melaksanakan aksinya”

“aneh, apa motif dari pelaku untuk beraksi” gumam Diana sambil memandang tempat bekas ditemukannya jasad korban.

“susah untuk menjawabnya, mengapa seseorang ingin menghilangkan nyawa orang lain, mungkin hanya sesama pembunuhlah yang bisa menjelaskannya”

“dan diriku pun tidak bisa membayangkan masuk kedalam pikiran sang pembunuh” jawab Diana.

“coba kususuri kembali jejak dari awal ditepi jalan, tunggu dimobil” kata Wahyu.

Wahyu berjalan 200 meter menuju keluar hutan, tempat itu sudah banyak dibersihkan selama proses evakuasi korban pertama ditemukan, untuk memudahkan mobil peralatan penyelidikan keluar masuk.

Ia menyusuri kembali jejak – jejak yang ditinggalkan sang pembunuh, dalam hatinya ia berharap dapat menemukan tanda yang belum terlihat.
Belum ada tanda yang tertinggal disana, sumber yang ia dapatkan masih berasal dari foto saat pertama kali jenazah korban ditemukan.

“Krek”

Sebuah suara yang berasal dari ranting yang dipijak terdengar dari balik pepohonan, kewaspadaan Wahyu meningkat, karena ia telah menyuruh Diana untuk tetap berada didalam mobil.

Dilihatnya sesosok bayangan tengah berlari diantara pepohonan, dengan reflek iapun mengejar bayangan tersebut.

“Berhenti!”

Teriak Wahyu kepada sosok itu, diambilnya pistol dari balik pinggangnya untuk berjaga – jaga, meskipun ia telah berteriak memperingatkan namun sosok misterius itu tetap berlari tanpa menoleh sedikitpun kearahnya.

Suasana remang – remang disore hari membuat Wahyu kesulitan memperkirakan profil orang yang dikejarnya.

Mereka saling kejar diantara pepohonan yang semakin lama semakin gelap, karena bermaksud untuk membuat sosok itu berhenti, wahyu mengarahkan pistolnya ke atas untuk memberi tembakan peringatan.

“Dor!”

Suara tembakan membelah kesunyian hutan, tiba – tiba Wahyu kehilangan sosok yang dikejarnya, jejak sosok misterius itu tidak terlihat lagi olehnya.

Dengan senjata yang masih tergenggam, ia berusaha mencari sosok itu, secara perlahan disusurinya pepohonan dihadapannya, menajamkan pendengarannya, instingnya merasa ia sudah berada dekat dengan apa yang dikejarnya, namun ia tidak tahu di arah mana orang itu menghilang.

“Kwak kwak”

Suara burung hutan yang mendadak berbunyi mengejutkan Wahyu, iapun secara spontan menoleh ke arah sumber bunyi burung tersebut, kosong, dan saat ia mengarah kearah sebaliknya.

“Brak”

Sebuah pukulan dengan balok menghantam kepalanya, pandangannya menjadi gelap, ia tersungkur ke tanah.

“Inspektur Wahyu!”

Sayup – sayup suara Diana memanggil dirinya, ia ingin berteriak menjawabnya, namun kepalanya masih terasa berat, dilihatnya sepasang kaki berjalan kearahnya, dan kemudian kaki itu menendang wajahnya, membuatnya pingsan...

BERSAMBUNG...


Tag : cerita, cerpen, misteri, detektif

Written by

0 komentar:

Post a Comment

 

© 10-5-2014 about,,,. All rights resevered. Designed by Diubah karena banyak script anehnya

Back To Top