Saturday, September 26, 2015

Dua cinta untuk Raisa

5:27 PM


“Mati”

Hanya kata itu yang singgah alam pikiran Raisa, sambil memegang undangan pernikahan ditangan kirinya dan sekaleng racun serangga ditangan kanannya.

Tekadnya sudah bulat untuk mengakhiri hidupnya, hidup yang telah lenyap dia rasakan setelah mengetahui pengkhianatan Sami terhadap cintanya, bagaimana mungkin seorang pria dapat berselingkuh dibelakangnya, disaat dia telah berjanji pada Raisa untuk menjaga cinta mereka berdua hingga jenjang pernikahan, bahkan sampai maut memisahkan mereka.

Impian kebahagiannya sudah musnah, rasa kenyamanannya sebagai seorang wanita sudah hilang, harga dirinya sudah diinjak – injak oleh vera, selingkuhan Sami yang juga sahabat karibnya, emosi telah memenuhi seluruh pikirannya.

Buntu

Jika dia harus hidup, untuk apa? Apakah sanggup Raisa melihat kebahagiaan Sami dan Vera diatas tangisan kesedihannya? Tidak, dia tidak bisa menerima kenyataan itu, lebih baik mati berkalang tanah daripada melihat senyuman mereka diatas pernikahan, lebih baik berputih mata daripada dia menerima kenyataan bahwa cintanya dikhianati.

Direguknya racun serangga yang ada ditangan kanannya, rasa pahit dan aneh menelusuri rongga kerongkongan Raisa, tidak lama kemudian racun itu dipompa oleh jantung keseluruh tubuhnya lewat darah yang menapaki setiap pembuluh nadinya.

Sakit

Saat racun itu menyebar keseluruh tubuh, badan Raisa kejang – kejang menerima zat asing itu, buih putih keluar dari bibirnya, nadinya melemah, pikirannya berat, matanya mulai merasa gelap, semakin lama semakin bertambah sakit, dipuncak kesakitan itu, dia menyerah, dan berteriak sekerasnya.

***

“Brak”

Pintu kamar Raisa didobrak oleh pak Haryono, terkejut dia melihat putrinya kejang – kejang membiru dilantai kamar.

Dengan panik berlari menuju tubuh anaknya, dipeluknya tubuh Raisa sambil meraung meminta tolong, disentuhnya nadi Raisa yang mulai melemah sedikit demi sedikit.

Orang – orang mulai berdatangan kerumah pak Haryono, ada yang sambil membawa kelapa muda, untuk diminum agar racun yang ada dalam tubuh Raisa bisa keluar, sementara pak RT menggenggam teleponnya menghubungi rumah sakit terdekat, agar nyawa Raisa bisa diselamatkan secepat mungkin.

Tidak lama kemudian, ambulanpun datang, dan tubuh Raisa dibawa menuju rumah sakit terdekat dikota itu.

Semua tetangga merasa prihatin dengan cobaan yang diterima oleh pak Haryono, setelah kepergian istrinya, mereka tidak menyangka, Raisa dapat berpikir sependek itu untuk mengakhiri hidupnya, seorang gadis yang periang dan selalu optimis dalam hidupnya, bukankah dengan bercerita kepada mereka, masalah Raisa dapat dicarikan jalan keluarnya?

***


Lampu – lampu lorong rumah sakit berjalan diatas mata Raisa, rekaman peristiwa yang telah berlalu seolah diputar kembali kehadapannya, ingatannya kembali saat dia berjumpa tadi pagi ditaman kampus dengan Vera, mata Vera membengkak karena terlalu banyak menangis.

“aku hamil, Raisa...”

“ha... hamil? Bagaimana mungkin kamu hamil?”

“aku terlalu terbuai oleh rayuan seorang lelaki, cintaku membuatku buta akan kesadaran pikiranku, Raisa, semua hilang dalam kenikmatan cinta sesaat”

“kau tahu, Raisa, benih yang tertanam dalam rahimku ini memaksa naluri keibuanku muncul sehingga aborsi yang ditawarkan lelaki bajingan itu tidak aku setujui”

“terus, lelaki brengsek itu kabur?” tanya Raisa dengan penuh kegeraman.

“tidak, setelah kakak lelaki ku menghajarnya sampai meminta ampun dan bersedia bertanggung jawab atas kehamilanku atau perkara ini akan diperpanjang sampai ke urusan hukum”

“kenapa kau baru menceritakannya sekarang, Vera? Setidaknya aku bisa membantumu melewati saat – saat sulitmu”

“bagaimana bisa aku menceritakan kepadamu, rasa bersalahku kepadamu lebih besar dari rasa benciku kepada lelaki itu”

“maksudmu apa? Aku tidak mengerti, bagaimana mungkin dirimu bisa merasa bersalah kepada diriku? Seingatku kamu tidak pernah melakukan kesalahan apapun”

“lelaki itu...”

“lelaki itu siapa? Vera, jangan membuatku bertambah bingung”

“Sami...” mata Vera menunduk ketanah.

“a... apa? Siapa? Tolong ulangi perkataanmu tadi, Vera”

“kamu pasti mendengar perkataanku, Raisa, lelaki itu adalah kekasihmu, dan aku adalah seorang yang menghujam tepat dijantungmu dari belakang”

“jangan berdusta, Vera, please... ini bukan sebuah gurauan” kata Raisa, butiran air jatuh dari sudut matanya, tangannya menutup mulutnya seolah tidak percaya.

“pukul aku, Raisa, pukul sampai kamu puas...” lirih Vera.

“ini tanggal pernikahan kami sebagai buktinya, mungkin hal ini sangat menyakitkan untukku, terlebih untuk dirimu, seorang sahabat rela mengkhianati sahabatnya dengan cara merebut kekasihnya” diletakkannya secarik undangan pernikahannya dengan Sami ditepi paha Raisa sambil mengusap air matanya yang membasahi pipi.

“aku pamit dulu, Raisa... terima kasih pernah menjadi sahabat terbaik untukku, penyesalan ini akan aku bawa sampai diriku mati nanti, aku berharap kamu dapat berjumpa dengan seorang pria yang tulus mencintaimu dimasa depan, tidak sepertiku yang harus hidup dengan kenangan masa lalu yang telah aku hancurkan”

Vera bangkit dari tempat duduknya, kakinya melangkah perlahan menjauhi bangku taman tempat dia dan Raisa duduk bersama, matanya menunduk kebawah, hatinya tercabik – cabik karena telah menyakiti sahabatnya semenjak bangku SD dahulu sampai mereka bersama kuliah diuniversitas yang sama hanya karena terbujuk rayuan seorang pria, air mata tidak berhenti mengalir dari pipinya.

Lama Raisa terdiam dibangku taman itu, dia berharap bangun dari mimpi pagi ini, dipandangnya secarik undangan yang terletak disampingnya, berkhayal bahwa nama yang terdapat disana bukanlah nama kekasih dan sahabatnya.

Sami Prayoga
Dan
Vera Lisdianto

Hatinya lebih teriris melihat apa yang dia baca dikertas itu daripada mendengar cerita Vera barusan, dihentakkan kakinya berharap ini semua ilusi, namun ternyata sebuah kenyataan.

Dia bangkit dan berlari dari taman kampus pagi itu, berlari dari sebuah kenyataan bahwa dia telah dikhianati, bahwa cintanya ternyata dibalas oleh kepalsuan, berlari menuju mobilnya dan ingin pulang kerumah.

“hanya lewat bunuh dirilah dirimu dapat menghilangkan semua kesedihan” bisik setan dalam hatinya.

***

 “Raisa...” panggil pak Haryono.

Perlahan Raisa membuka matanya, rupanya dia berada dibangsal rumah sakit.
Ditatapnya ayahnya, ada rasa bersalah yang menyelimuti pikiran Raisa, karena telah berbuat kesalahan fatal dengan meminum racun serangga karena pikiran pendek telah menguasai nalarnya.

Bukankah ayahnya sangat menyayangi dirinya? Kenapa seorang pria asing yang baru dia kenal enam tahun, bisa mengalahkan cinta ayahnya yang hadir semenjak Raisa ada didunia ini?.

Ayahnya lah yang senantiasa ikhlas mencintai dirinya sebagai kepala keluarga tanpa berharap sesuatu apapun, semenjak kematian ibu, Ayah telah berperan ganda dalam hidup Raisa sebagai seorang Ayah dan Ibu.

“Ayah, maafkan kebodohan Raisa, Raisa terlalu pendek dalam berpikir”

Pak Haryono mengusap air matanya, bagaimanapun Raisa melakukan kesalahan fatal, dia harus memaafkannya dan memberinya suport agar Raisa bisa bangkit kembali.

Perlahan Pak Haryono bangkit dari tempat duduknya, diruangan rumah sakit menuju pembaringan Raisa, diusapnya rambut Raisa dengan kasih sayang.

“Nak, jangan berbuat bodoh lagi ya? Ayah takut kehilangan kamu...”

“Iya Ayah, maafkan Raisa, Raisa janji tidak akan berbuat bodoh lagi dan mengecewakan ayah”

Dengan tangan yang masih lemah dan masih diinfus, dirangkulnya tubuh ayahnya, ayahnya pun membalas memeluk kepada Raisa kedalam dadanya, seolah takut kehilangan, mereka berdua menangis bersama malam itu.

***


Lima tahun sudah semenjak Raisa mencoba mengakhiri hidupnya setelah kehilangan cintanya.

Kebodohan yang pernah diperbuatnya masih membekas sampai saat ini, terkadang jika dia mengingat kejadian itu, dia merasa sedih, sebuah kepalsuan cinta yang membutakan mata hati dan pikirannya.

Raisa sedang merapikan kain jahitannya, setelah dia merancangnya selama sebulan, tiga stel pakaian berwarna hijau muda kini ada dihadapannya, dan dia memandang pakaian itu sambil tersenyum.

“Ibu” teriak Yogi.

“Eh Yogi, kapan pulangnya? Mana tidak bilang assalamualaikum lagi...” kata Raisa sambil mencubit pipi anaknya.

Mereka tertawa berdua, dan saling bergurau antara satu dengan lain.

“Assalamualaikum” sebuah suara berasal dari pintu rumah.

“Waalaikum salam” jawab Raisa

Raisa bergegas menuju pintu rumah, mengambil tas milik Tomi, dan sekaligus mencium tangan suaminya tersebut.

“sudah makan, mas?” tanya Raisa sambil tersenyum manis, menampakkan lesung pipitnya.

“belum, mana enak makan kalau tidak sama mama dan Yogi” jawab Tomi.

“mama baru menyelesaikan baju kita bertiga, bagus ngga?” tanya Raisa.

“wah, bagus banget” kata Tomi sambil melihat karya istrinya dengan kagum.

“udah lapar nih, makan yuk”

“Oh iya, mama juga sudah buat lauk kesukaan mas dan Yogi” jawab Raisa.

Mereka bertigapun melangkah ke meja makan untuk menikmati santap siang bersama.

Ada rasa cinta melingkupi rumah itu, dua cinta sejati yang menggantikan satu cinta palsu di hati Raisa, dia bersyukur, masih diberikan kesempatan kedua dalam hidupnya oleh Tuhan.


= T A M A T =

Pekanbaru, 25 juli 2015

Written by

0 komentar:

Post a Comment

 

© 10-5-2014 about,,,. All rights resevered. Designed by Diubah karena banyak script anehnya

Back To Top