Kumpulan lagu Malaysia untuk menemani bekerja
Thursday, January 23, 2020
Saturday, September 26, 2015
Dua cinta untuk Raisa
“Mati”
Hanya kata itu yang singgah alam
pikiran Raisa, sambil memegang undangan pernikahan ditangan kirinya dan
sekaleng racun serangga ditangan kanannya.
Tekadnya sudah bulat untuk mengakhiri
hidupnya, hidup yang telah lenyap dia rasakan setelah mengetahui pengkhianatan Sami
terhadap cintanya, bagaimana mungkin seorang pria dapat berselingkuh
dibelakangnya, disaat dia telah berjanji pada Raisa untuk menjaga cinta mereka
berdua hingga jenjang pernikahan, bahkan sampai maut memisahkan mereka.
Impian kebahagiannya sudah musnah, rasa
kenyamanannya sebagai seorang wanita sudah hilang, harga dirinya sudah diinjak
– injak oleh vera, selingkuhan Sami yang juga sahabat karibnya, emosi telah
memenuhi seluruh pikirannya.
Buntu
Jika dia harus hidup, untuk apa? Apakah
sanggup Raisa melihat kebahagiaan Sami dan Vera diatas tangisan kesedihannya?
Tidak, dia tidak bisa menerima kenyataan itu, lebih baik mati berkalang tanah
daripada melihat senyuman mereka diatas pernikahan, lebih baik berputih mata
daripada dia menerima kenyataan bahwa cintanya dikhianati.
Direguknya racun serangga yang ada
ditangan kanannya, rasa pahit dan aneh menelusuri rongga kerongkongan Raisa, tidak
lama kemudian racun itu dipompa oleh jantung keseluruh tubuhnya lewat darah
yang menapaki setiap pembuluh nadinya.
Sakit
Saat racun itu menyebar keseluruh
tubuh, badan Raisa kejang – kejang menerima zat asing itu, buih putih keluar
dari bibirnya, nadinya melemah, pikirannya berat, matanya mulai merasa gelap, semakin
lama semakin bertambah sakit, dipuncak kesakitan itu, dia menyerah, dan
berteriak sekerasnya.
***
“Brak”
Pintu kamar Raisa didobrak oleh pak Haryono,
terkejut dia melihat putrinya kejang – kejang membiru dilantai kamar.
Dengan panik berlari menuju tubuh
anaknya, dipeluknya tubuh Raisa sambil meraung meminta tolong, disentuhnya nadi
Raisa yang mulai melemah sedikit demi sedikit.
Orang – orang mulai berdatangan kerumah
pak Haryono, ada yang sambil membawa kelapa muda, untuk diminum agar racun yang
ada dalam tubuh Raisa bisa keluar, sementara pak RT menggenggam teleponnya
menghubungi rumah sakit terdekat, agar nyawa Raisa bisa diselamatkan secepat
mungkin.
Tidak lama kemudian, ambulanpun datang,
dan tubuh Raisa dibawa menuju rumah sakit terdekat dikota itu.
Semua tetangga merasa prihatin dengan
cobaan yang diterima oleh pak Haryono, setelah kepergian istrinya, mereka tidak
menyangka, Raisa dapat berpikir sependek itu untuk mengakhiri hidupnya, seorang
gadis yang periang dan selalu optimis dalam hidupnya, bukankah dengan bercerita
kepada mereka, masalah Raisa dapat dicarikan jalan keluarnya?
***
Lampu – lampu lorong rumah sakit berjalan
diatas mata Raisa, rekaman peristiwa yang telah berlalu seolah diputar kembali
kehadapannya, ingatannya kembali saat dia berjumpa tadi pagi ditaman kampus
dengan Vera, mata Vera membengkak karena terlalu banyak menangis.
“aku hamil, Raisa...”
“ha... hamil? Bagaimana mungkin kamu
hamil?”
“aku terlalu terbuai oleh rayuan
seorang lelaki, cintaku membuatku buta akan kesadaran pikiranku, Raisa, semua
hilang dalam kenikmatan cinta sesaat”
“kau tahu, Raisa, benih yang tertanam
dalam rahimku ini memaksa naluri keibuanku muncul sehingga aborsi yang
ditawarkan lelaki bajingan itu tidak aku setujui”
“terus, lelaki brengsek itu kabur?”
tanya Raisa dengan penuh kegeraman.
“tidak, setelah kakak lelaki ku
menghajarnya sampai meminta ampun dan bersedia bertanggung jawab atas
kehamilanku atau perkara ini akan diperpanjang sampai ke urusan hukum”
“kenapa kau baru menceritakannya
sekarang, Vera? Setidaknya aku bisa membantumu melewati saat – saat sulitmu”
“bagaimana bisa aku menceritakan
kepadamu, rasa bersalahku kepadamu lebih besar dari rasa benciku kepada lelaki
itu”
“maksudmu apa? Aku tidak mengerti,
bagaimana mungkin dirimu bisa merasa bersalah kepada diriku? Seingatku kamu
tidak pernah melakukan kesalahan apapun”
“lelaki itu...”
“lelaki itu siapa? Vera, jangan
membuatku bertambah bingung”
“Sami...” mata Vera menunduk ketanah.
“a... apa? Siapa? Tolong ulangi
perkataanmu tadi, Vera”
“kamu pasti mendengar perkataanku, Raisa,
lelaki itu adalah kekasihmu, dan aku adalah seorang yang menghujam tepat dijantungmu
dari belakang”
“jangan berdusta, Vera, please... ini
bukan sebuah gurauan” kata Raisa, butiran air jatuh dari sudut matanya, tangannya
menutup mulutnya seolah tidak percaya.
“pukul aku, Raisa, pukul sampai kamu
puas...” lirih Vera.
“ini tanggal pernikahan kami sebagai
buktinya, mungkin hal ini sangat menyakitkan untukku, terlebih untuk dirimu,
seorang sahabat rela mengkhianati sahabatnya dengan cara merebut kekasihnya”
diletakkannya secarik undangan pernikahannya dengan Sami ditepi paha Raisa
sambil mengusap air matanya yang membasahi pipi.
“aku pamit dulu, Raisa... terima kasih
pernah menjadi sahabat terbaik untukku, penyesalan ini akan aku bawa sampai diriku
mati nanti, aku berharap kamu dapat berjumpa dengan seorang pria yang tulus
mencintaimu dimasa depan, tidak sepertiku yang harus hidup dengan kenangan masa
lalu yang telah aku hancurkan”
Vera bangkit dari tempat duduknya,
kakinya melangkah perlahan menjauhi bangku taman tempat dia dan Raisa duduk
bersama, matanya menunduk kebawah, hatinya tercabik – cabik karena telah menyakiti
sahabatnya semenjak bangku SD dahulu sampai mereka bersama kuliah diuniversitas
yang sama hanya karena terbujuk rayuan seorang pria, air mata tidak berhenti
mengalir dari pipinya.
Lama Raisa terdiam dibangku taman itu,
dia berharap bangun dari mimpi pagi ini, dipandangnya secarik undangan yang
terletak disampingnya, berkhayal bahwa nama yang terdapat disana bukanlah nama
kekasih dan sahabatnya.
Sami Prayoga
Dan
Vera Lisdianto
Hatinya lebih teriris melihat apa yang
dia baca dikertas itu daripada mendengar cerita Vera barusan, dihentakkan
kakinya berharap ini semua ilusi, namun ternyata sebuah kenyataan.
Dia bangkit dan berlari dari taman
kampus pagi itu, berlari dari sebuah kenyataan bahwa dia telah dikhianati,
bahwa cintanya ternyata dibalas oleh kepalsuan, berlari menuju mobilnya dan
ingin pulang kerumah.
“hanya lewat bunuh dirilah dirimu dapat
menghilangkan semua kesedihan” bisik setan dalam hatinya.
***
“Raisa...”
panggil pak Haryono.
Perlahan Raisa membuka matanya, rupanya
dia berada dibangsal rumah sakit.
Ditatapnya ayahnya, ada rasa bersalah
yang menyelimuti pikiran Raisa, karena telah berbuat kesalahan fatal dengan
meminum racun serangga karena pikiran pendek telah menguasai nalarnya.
Bukankah ayahnya sangat menyayangi
dirinya? Kenapa seorang pria asing yang baru dia kenal enam tahun, bisa
mengalahkan cinta ayahnya yang hadir semenjak Raisa ada didunia ini?.
Ayahnya lah yang senantiasa ikhlas
mencintai dirinya sebagai kepala keluarga tanpa berharap sesuatu apapun,
semenjak kematian ibu, Ayah telah berperan ganda dalam hidup Raisa sebagai
seorang Ayah dan Ibu.
“Ayah, maafkan kebodohan Raisa, Raisa
terlalu pendek dalam berpikir”
Pak Haryono mengusap air matanya,
bagaimanapun Raisa melakukan kesalahan fatal, dia harus memaafkannya dan
memberinya suport agar Raisa bisa bangkit kembali.
Perlahan Pak Haryono bangkit dari
tempat duduknya, diruangan rumah sakit menuju pembaringan Raisa, diusapnya
rambut Raisa dengan kasih sayang.
“Nak, jangan berbuat bodoh lagi ya? Ayah
takut kehilangan kamu...”
“Iya Ayah, maafkan Raisa, Raisa janji
tidak akan berbuat bodoh lagi dan mengecewakan ayah”
Dengan tangan yang masih lemah dan masih
diinfus, dirangkulnya tubuh ayahnya, ayahnya pun membalas memeluk kepada Raisa
kedalam dadanya, seolah takut kehilangan, mereka berdua menangis bersama malam
itu.
***
Lima tahun sudah semenjak Raisa mencoba
mengakhiri hidupnya setelah kehilangan cintanya.
Kebodohan yang pernah diperbuatnya
masih membekas sampai saat ini, terkadang jika dia mengingat kejadian itu, dia
merasa sedih, sebuah kepalsuan cinta yang membutakan mata hati dan pikirannya.
Raisa sedang merapikan kain jahitannya,
setelah dia merancangnya selama sebulan, tiga stel pakaian berwarna hijau muda
kini ada dihadapannya, dan dia memandang pakaian itu sambil tersenyum.
“Ibu” teriak Yogi.
“Eh Yogi, kapan pulangnya? Mana tidak
bilang assalamualaikum lagi...” kata Raisa sambil mencubit pipi anaknya.
Mereka tertawa berdua, dan saling
bergurau antara satu dengan lain.
“Assalamualaikum” sebuah suara berasal
dari pintu rumah.
“Waalaikum salam” jawab Raisa
Raisa bergegas menuju pintu rumah,
mengambil tas milik Tomi, dan sekaligus mencium tangan suaminya tersebut.
“sudah makan, mas?” tanya Raisa sambil
tersenyum manis, menampakkan lesung pipitnya.
“belum, mana enak makan kalau tidak
sama mama dan Yogi” jawab Tomi.
“mama baru menyelesaikan baju kita
bertiga, bagus ngga?” tanya Raisa.
“wah, bagus banget” kata Tomi sambil
melihat karya istrinya dengan kagum.
“udah lapar nih, makan yuk”
“Oh iya, mama juga sudah buat lauk
kesukaan mas dan Yogi” jawab Raisa.
Mereka bertigapun melangkah ke meja
makan untuk menikmati santap siang bersama.
Ada rasa cinta melingkupi rumah itu,
dua cinta sejati yang menggantikan satu cinta palsu di hati Raisa, dia
bersyukur, masih diberikan kesempatan kedua dalam hidupnya oleh Tuhan.
=
T A M A T =
Pekanbaru, 25 juli 2015
By:
empuss miaww
On 5:27 PM
Thursday, August 27, 2015
Pesona sang Inspektur
SEBELUMNYA : WHITE LILY
“Tim satu, siap?” tanya Iptu Wahyu.
“Siap ditempat, komandan” jawab Andi.
“Tim dua, siap?”
“Siap, komandan”
“mata elang, bagaimana posisi objek?”
“objek sedang mengarah keluar, komandan” jawab
penembak jitu yang bersembunyi dibalik pepohonan didepan rumah Lili.
“Ok, semua tim, bersiap dalam hitungan saya”
Lily sedang bersiap
untuk keluar dari rumahnya, hatinya menduga – duga kesalahan apa yang
diperbuatnya sehingga polisi dapat mengendus jejak pembunuhan yang dilakukannya
dipanti jompo.
Saat ia membuka pintu
dan melangkah keluar, sebuah pemandangan dihadapannya mengejutkannya.
“LILI,
MAUKAH KAU MENIKAHI AKU?”
Sebuah spanduk besar
yang terletak diatas deretan mobil patroli polisi membuat dirinya secara tidak
sengaja menutup mulutnya dengan tangannya, dilihatnya Iptu Wahyu datang dari
mobilnya kearah Lily sambil membawa sebuah kotak cincin.
“Lili, maafkan saya
mengagetkan dirimu, maukah dirimu menjadi istriku? Dan ibu dari Randy?”
Lili baru saja lepas
dari keterkejutannya, tiba – tiba sebuah ide terlintas dalam hatinya, bagaimana
cara ia menghajar sang pembunuh misterius secara langsung...
***
“kasus ini sangat
rumit” kata Komisaris Bobby setelah melihat laporan Iptu. Wahyu yang terletak
diatas mejanya.
“dalam waktu enam
bulan sudah ada tiga kali kasus pembunuhan dengan metode yang sama”
“kasus ini masih kami
selidiki, pak” kata Iptu. Wahyu yang duduk diseberang meja Komisaris Bobby.
“sudah ditemukan
motif pembunuh beraksi?”
“belum dapat, Pak”
“sudah ada saksi mata
yang melihat kejadian?”
“sejauh ini belum ada
saksi mata yang melihat kejadian di lokasi”
“bagaimana hasil dari
bagian forensik?”
“menurut hasil
pemeriksaan dokter Dodi, korban diduga dibunuh saat tengah malam, antara jam 10
malam sampai jam dua pagi, terdapat bekas penyekapan oleh pembunuh, ditandai
dengan adanya tanda bekas ikatan tali ditangan para korban, para korban
diperkirakan dibunuh dengan menggunakan benda tumpul, semua langsung dibagian
kepala, dan dokter Dodi memperkirakan tidak semua korban meninggal langsung
setelah dipukul benda tumpul tersebut, setelah itu baru korban dimutilasi
dengan menggunakan benda tajam, dari diameter luka diperkirakan mempergunakan
kapak”
“hal itu sudah ada
dalam laporan anda, yang saya maksudkan, sepanjang pengalaman dokter Dodi,
pernahkah kejadian seperti ini terjadi sebelumnya?”
“menurut dokter Dodi,
sepanjang pengalamannya sebagai seorang dokter forensik, baru kali ini ia
melihat kasus yang sadis seperti ini”
“Hal aneh, menurut
bagian forensik, sidik jari tidak ditemukan, dan kasus seperti ini belum pernah
terjadi sebelumnya, sementara pembunuhnya bertindak seperti seorang yang telah
berpengalaman” kata Komisaris Bobby sambil mengusap dagunya.
“Coba anda selidiki
kembali hubungan antara kasus – kasus pebunuhan ini, jika sudah ditemukan
benang merah penghubungnya, hubungi saya kembali”
“Siap, pak!” kata
Iptu. Wahyu sambil berdiri dan memberi hormat kepada Komisaris Bobby.
***
“Bagaimana kata
komisaris?” tanya Diana, rekan sekerja Wahyu.
“Harus diselidiki
kembali untuk menemukan benang merahnya”
“yup, kasus yang
cukup rumit, tanpa saksi mata, tanpa petunjuk, tanpa meninggalkan jejak apapun”
“cukup susah untuk
membuat profil pembunuh dengan menggunakan tiga orang korban saja”
“benar, ketiga kasus
ini tampak seperti kasus pembunuhan biasa saja”
“bagaimana menurutmu,
Diana?”
“mungkin kita harus
memulai dari kasus pertama terjadi dulu, pertama sekali lokasi kejadian,
mengapa sang pembunuh memilih meninggalkan korban di hutan”
“ide yang bagus” kata
Wahyu.
“selanjutnya kita
menghubungkan identitas antara korban dan hubungan antara mereka”
“Baiklah, kita menuju
lokasi pembunuhan pertama dahulu” jawab Diana.
“Naik mobil saya
saja” katanya lagi, sambil melempar kunci mobil miliknya kearah Wahyu.
***
Jalanan kota penuh
kemacetan siang itu, anak – anak sekolah baru pulang dari kegiatan belajarnya,
mobil Diana terjebak dalam kemacetan itu, mereka terpaksa menunggu sampai
kemacetan terurai.
“Bagaimana kabar
istrimu?”
“Lily?”
“Ya, apakah dia sehat
– sehat saja?”
“Dia sehat – sehat
saja, dia mungkin sedang dirumah bermain dengan Randi sepulang sekolah”
“sudah tiga bulan
kalian menikah”
“kami masih
menyesuaikan antara kepribadian masing – masing, maklumlah jarak perkenalan dan
pernikahan sangat dekat”
“jadi kalian
memutuskan untuk tinggal di rumah Lily?”
“Dia tidak ingin
meninggalkan rumah itu, banyak kenangan didalamnya, katanya”
“jadi, rumah lamamu
tidak dipakai lagi?”
“Aku kontrakkan saja
kepada orang lain, setidaknya bisa tetap terawat dan ada sumber pemasukan lain”
“Lily tidak bekerja
lagi?”
“Tidak, ia memutuskan
berhenti dari pekerjaannya dipanti Jompo”
“Bagaimana selama
kalian menikah, sering bertengkar?”
“Oh, tidak, Lili
orangnya tidak banyak bercerita, tipe pendiam, jadi terkadang aku mengajaknya bersenda
gurau untuk menghilangkan kesuntukan dia selama dirumah, menurutku”
“bagaimana dengan
proses perceraian dirimu, apakah sudah selesai?” tanya Wahyu kepada Diana.
“Minggu depan baru
keluar keputusan dari hakim”
“aku tidak menyangka
bisa berakhir seperti itu keluargamu”
“yah... biasalah, hal
ini terjadi karena ketidak cocokan lagi”
“oh...”
“seperti itulah,
komunikasi antara kami sudah jarang terjadi, dan kami sibuk dengan profesi
masing – masing, ketiadaan anak juga menambah kehampaan diantara kami”
“Maaf, jika
pertanyaanku menyinggung dirimu”
“tidak apa – apa,
semua mungkin suratan takdir”
Kesunyian tercipta
diantara mereka, sambil menunggu kemacetan terurai.
Ada yang mengganjal
dalam hati Diana, ia pernah berkhayal untuk menikah dengan sosok seperti Wahyu
yang meneduhkan dan memberikan keceriaan selama pertemanan mereka dalam
bertugas.
Seharusnya ia lebih
cepat bercerai sebelum Wahyu menikah lagi, pikirnya, namun semua sudah terjadi
dan ia hanya bisa menjalaninya apa adanya.
Kemacetan mulai
terurai, mobil merekapun bisa berjalan kembali, mereka mengarah ke tenggara,
dihutan tempat pembunuhan pertama terjadi untuk pertama kalinya.
***
Garis polisi masih
terlihat di tempat kejadian perkara, meskipun terlihat usang karena sudah enam
bulan tempat itu ditinggalkan oleh pihak kepolisian.
Diana dan Wahyu masih mengamati foto – foto pengambilan
perkara saat pertama kali korban ditemukan didalam laptop wahyu, seorang pria
berusia lanjut adalah korban pertama pembunuhan itu.
Korban pertama
bernama Yudi, alias A Siu, peranakan tionghoa berusia 55 tahun, tingginya 167
cm, berat badannya 60 Kg, tinggal sendiri di rumahnya yang tidak terlalu ramai
dengan tetangga di kiri dan kanan rumahnya.
“Bagaimana cara
seseorang membawa korban dari mobilnya ditepi jalan masuk kedalam hutan?” tanya
Wahyu
“Sepertinya dibopong
oleh sang pembunuh, karena jika diseret mungkin akan banyak jejak tertinggal
didalam hutan ini”
“coba bayangkan
diriku membawa korban yang tingginya 167 cm yang berat dari dalam mobil menuju
pohon ini, apakah tidak merasa susah saat dibopong, jaraknya lumayan jauh,
sekitar 200 meter...”
“ada dua kemungkinan,
mungkin sang pembunuh berpostur besar yang biasa membawa beban besar, atau juga
korban masih hidup saat akan dibawa menuju tempat eksekusi” kata Diana
“coba lihat hutan
ini, apa yang menarik dari hutan ini, sehingga sang pembunuh memilih tempat ini
sebagai tempat ia melakukan aksinya pertama kali”
“hutan ini terletak
disebelah tenggara dari kota, berjarak sekitar 45 km dari kota, butuh waktu
paling cepat setengah jam untuk mencapainya, tidak ada penduduk yang tinggal
diradius 10 km dari tempat ini”
“berarti tempat yang
aman untuk melakukan aksinya tanpa ada saksi mata dari penduduk sekitar sini
ya?”
“benar, bahkan untuk
jam 10 malam keatas, pengemudi antar kotapun saya rasa tidak terlalu
memperhatikan apa yang terjadi ditepi jalan, pikiran mereka pasti tertuju
kearah kota yang sebentar lagi akan dicapai, merupakan tempat yang sempurna
untuk melaksanakan aksinya”
“aneh, apa motif dari
pelaku untuk beraksi” gumam Diana sambil memandang tempat bekas ditemukannya
jasad korban.
“susah untuk
menjawabnya, mengapa seseorang ingin menghilangkan nyawa orang lain, mungkin
hanya sesama pembunuhlah yang bisa menjelaskannya”
“dan diriku pun tidak
bisa membayangkan masuk kedalam pikiran sang pembunuh” jawab Diana.
“coba kususuri
kembali jejak dari awal ditepi jalan, tunggu dimobil” kata Wahyu.
Wahyu berjalan 200
meter menuju keluar hutan, tempat itu sudah banyak dibersihkan selama proses
evakuasi korban pertama ditemukan, untuk memudahkan mobil peralatan
penyelidikan keluar masuk.
Ia menyusuri kembali
jejak – jejak yang ditinggalkan sang pembunuh, dalam hatinya ia berharap dapat
menemukan tanda yang belum terlihat.
Belum ada tanda yang
tertinggal disana, sumber yang ia dapatkan masih berasal dari foto saat pertama
kali jenazah korban ditemukan.
“Krek”
Sebuah suara yang
berasal dari ranting yang dipijak terdengar dari balik pepohonan, kewaspadaan
Wahyu meningkat, karena ia telah menyuruh Diana untuk tetap berada didalam
mobil.
Dilihatnya sesosok
bayangan tengah berlari diantara pepohonan, dengan reflek iapun mengejar
bayangan tersebut.
“Berhenti!”
Teriak Wahyu kepada
sosok itu, diambilnya pistol dari balik pinggangnya untuk berjaga – jaga,
meskipun ia telah berteriak memperingatkan namun sosok misterius itu tetap
berlari tanpa menoleh sedikitpun kearahnya.
Suasana remang –
remang disore hari membuat Wahyu kesulitan memperkirakan profil orang yang
dikejarnya.
Mereka saling kejar
diantara pepohonan yang semakin lama semakin gelap, karena bermaksud untuk
membuat sosok itu berhenti, wahyu mengarahkan pistolnya ke atas untuk memberi
tembakan peringatan.
“Dor!”
Suara tembakan
membelah kesunyian hutan, tiba – tiba Wahyu kehilangan sosok yang dikejarnya,
jejak sosok misterius itu tidak terlihat lagi olehnya.
Dengan senjata yang
masih tergenggam, ia berusaha mencari sosok itu, secara perlahan disusurinya
pepohonan dihadapannya, menajamkan pendengarannya, instingnya merasa ia sudah
berada dekat dengan apa yang dikejarnya, namun ia tidak tahu di arah mana orang
itu menghilang.
“Kwak kwak”
Suara burung hutan
yang mendadak berbunyi mengejutkan Wahyu, iapun secara spontan menoleh ke arah
sumber bunyi burung tersebut, kosong, dan saat ia mengarah kearah sebaliknya.
“Brak”
Sebuah pukulan dengan
balok menghantam kepalanya, pandangannya menjadi gelap, ia tersungkur ke tanah.
“Inspektur Wahyu!”
Sayup – sayup suara
Diana memanggil dirinya, ia ingin berteriak menjawabnya, namun kepalanya masih
terasa berat, dilihatnya sepasang kaki berjalan kearahnya, dan kemudian kaki
itu menendang wajahnya, membuatnya pingsan...
BERSAMBUNG...
Tag : cerita, cerpen,
misteri, detektif
By:
empuss miaww
On 9:42 PM
Subscribe to:
Comments (Atom)


