Sunday, October 9, 2011

Bingkai Jendela

3:24 PM




Semua bermula dari salah ku sendiri, mencoba melompati jendela pembatas antara rumahku dengan rumahnya, bagaimana mungkin aku tidak tergode dengan pemandangan di halaman rumahnya, begitu syahdu dan menentramkan siapapun yang melihatnya dari luar jendela.
Ah, duniaku yang terasa hitam dan putihlah yang memaksa aku memandang dunia penuh warna di sebelah sana, aku merasakan ada kebebasan dan hal – hal baru yang terlihat dalam dunia penuh warna yang terpampang di jendela kamarku.
Dunia ku yang ramai dan penuh dengan orang – orang yang saling memperhatikan satu dengan lain membuatku bosan dan ingin merasa sendiri di balik jendela, aku membutuhkan kesunyian, aku membutuhkan privasi, aku membutuhkan kesendirian.
Dunia penuh warna yang terpampang di seberang bingkai jendela seolah memberikan apapun yang aku butuhkan, saat aku pandang setiap hari tiada bosan dan kejemuan yang 
aku lihat.

Maka sampailah kakiku di dunia penuh warna dan kebebasan yang ada di depan mataku, bukan ilusi, bukan khayalan, semua riil dan begitu nyata bagiku, dunia penuh warna yang menghadirkan semua impian dan keinginan yang selama ini aku idamkan.

Aku pandang dunia hitam putih untuk terakhir kalinya, sebelum aku berlari melintasi hutan dan semak belukar yang ada di hadapan mataku saat ini. “selamat tinggal” kataku dalam hati, dan mulai berlari dan berlari memasuki dunia dan pengalaman baru yang menanti depan mata, pasti sesuai dengan khayalanku.

Aku sudah lupa jalan kembali ke jendela, petualangan – petualangan baru begitu mengasyikkan buatku, melihat ribuan warna, ribuan macam hal – hal unik yang tidak pernah aku saksikan hadir di hadapan mata.

Semakin hari, semakin jauh aku melangkah ke dalam dunia baru ini, hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun. Tahun pertama begitu indah bagiku, begitu hidup, namun menapaki tahun – tahun yang mulai berjalan, aku mulai merasa  mulai kesepian dan kehilangan.

Pernah aku menemukan tulang – belulang manusia yang sedang berposisi duduk di suatu pohon, apakah dia seperti diriku? Terjebak dalam dunia warna dan kehilangan dunia yang pernah aku tinggal di dalamnya? Entah kenapa jebakan ilusi begitu menggoda untukku saat ini. Aku telah kehilangan arah untuk kembali pulang ke duniaku yang lalu.

Kelelahan mulai mengisi rongga paru – paru dan sendi – sendi tulangku, aku tidak mampu lagi untuk berjalan jauh, dunia ini begitu luas terhampar dan hanya akulah satu – satunya orang yang masih hidup di belahan dunia ini, terduduk aku di sebuah pohon rindang di tepi hutan, menyesali kebodohanku yang kurang mensyukuri duniaku yang sederhana….
***
10 tahun kemudian,,,

“Ibu, aku ingin kamar di atap ini, pemandangannya indah” kata seorang anak kepada Ibunya, saat mereka baru membereskan rumah tempat tinggal baru mereka, di tepian kota kecil yang cukup terpencil.

“Iya, Banu, jangan lupa bereskan kamarmu sebelum tidur disana malam ini” sahut Ibunya.
Banu tidak mendengar perkataan ibunya, dirinya sedang sibuk dengan lamunannya sendiri tentang dunia yang terhampar di luar jendela kamarnya…

“Suatu hari, aku ingin melompati jendela ini, menuju kesana” batin Banu….

Written by

 

© 10-5-2014 about,,,. All rights resevered. Designed by Diubah karena banyak script anehnya

Back To Top