Tuesday, October 4, 2011

Mr. Cuek Vs Mrs. Perfeksionis

6:03 AM


“Kring,,,” Handphone Dodi berbunyi saat dinihari
“Abang,, bangun” Kata Farah dari ujung saluran telefon
“iya” jawab Dodi sambil menguap
“tunggu dulu, bang, jangan di tutup” kata Farah menahan Dodi
“ Jangan lupa apa – apa yang akan abang bawa saat meeting nanti”
“Adek sudah siapkan daftarnya” lanjut Farah
“oke”
“Materi Pelatihan”
“Ada”
“Softcopy pelatihan”
“Ada”
“Sepatu”
“Ada”
“Baju, celana, ikat pinggang, dasi, jas, catatan”
“Ada”
“Ada atau tidak ada, abaaaaaaaaaaannnggg” kata Farah dengan kesal
“Ada, sudah di taruh di atas meja kamar hotel”
“Adinda selalu khawatir kalau abang itu tugas keluar kota”
“hehehe,,, santai aja ah”
“ya udah, jangan lupa setelah sholat subuh jangan bobo, miss u”
“miss u too”
Dodi meletakkan handphonnya di atas meja, dan kemudian melanjutkan tidurnya.
***
Paginya Dodi berangkat menuju kantor cabang perusahaannya bekerja dengan terburu – buru karena kesiangan dengan menggunakan taksi, sebuah suara memanggilnya saat dia baru masuk ke pintu kantor
“Pak Dodi, tolong kesini sebentar” panggil Andri, pimpinan cabang sekaligus teman dekat Dodi
“Ayo masuk ke kantor, ada hal kecil yang ingin saya bicarakan”
Dodi mengikuti langkah Andri memasuki sebuah ruangan kerja, barang – barang tersusun rapi di sana, terdapat meja tamu, lemari arsip, meja kerja, TV di sudut ruangan serta sebuah cermin besar di samping kamar kecil pimpinan.
“ Ada apa, pak Andri?” Tanya Dodi
“Sebentar lagi kita mau rapat, tetapi coba lihat penampilanmu di cermin” kata Andri sambil terkekeh
Dodi kemudian berjalan menuju cermin untuk melihat penampilannya, dia terkejut, karena panampilannya yang tidak rapi, dasinya miring kesamping, bajunya ada yang salah pasang, rambutnya awut – awutan, bahkan restleting celananya lupa dia naikkan, mukanya menjadi merah karena menahan malu, sambil merapikan penampilannya.
“Hahaha,,, penyakitmu sudah lama saya bilang, sobat” Kata Andri sambil tertawa Lepas,
 “Cuma tiga saja, lupa, buru – buru, dan ngantuk karena kurang tidur” lanjutnya
“Iya, istriku juga bilang seperti itu”, jawab Dodi
“Kamu tahu penyebabnya? Karena kamu itu terlalu cuek untuk mengurus diri kamu sendiri, cobalah untuk perhatian pada dirimu sedikit saja, saya rasa, 5 menit sebelum kamu berangkat ke kantor untuk berdiri di depan cermin lebih baik daripada terburu – buru, dan jangan pernah takut untuk terlambat berangkat, jika saja kamu memiliki waktu yang cukup beristirahat malam harinya” nasihat Andri kepada Dodi sambil menepuk – nepuk pundak Dodi.
“Terima kasih nasihatnya, Bos” jawab Dodi sambil menyengir,
“yuk kita mulai rapat” ajak Andri.
***
Farah sedang duduk termenung di ruang tamu, sambil memandang album foto pernikahannya, hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan ke lima dengan Dodi, mereka telah saling kenal mengenal semenjak duduk di bangku perkuliahan, Farah adalah aktifis kampus yang senantiasa sibuk dengan organisasi dan perkuliahan, sementara Dodi adalah mahasiswa yang jarang ikut ke dalam aktifitas organisasi, hobinya berkumpul dengan kawan segenknya, mengabaikan perkuliahan, aktif dalam tawuran antar fakultas, bahkan juga ikut dalam demo – demo anarkis yang sering bentrok dengan aparat keamanan di jalanan. Persamaan di antara mereka hanya satu, yaitu Farah dan Dodi sama – sama tidak pernah berpacaran, selebihnya perbedaan mereka ibarat bumi dan langit, Farah adalah anak pertama, sedangkan Dodi merupakan anak terakhir di keluarganya.
Pertemuan terakhir mereka setelah tamat kuliah terjadi 5 ½ tahun yang lalu, saat Farah dan Dodi sedang berbelanja di pusat perbelanjaan terbesar kota ini, akhirnya Dodi yang bersifat pemberani, dengan agresif langsung melamar Farah kepada orang tuanya, tanpa proses berpacaran, hanya melamar, bertunangan 6 bulan dan akhirnya duduk di bangku pelaminan.
Tahun pertama pernikahan mereka diwarnai oleh episode – episode pertengkaran dua insane yang berbeda karakter,Farah yang berkarakter keras namun lembut jika di beri pemahaman secara perlahan – lahan VS Dodi yang berkarakter pengalah namun sangat keras dalam memegang prinsip hidupnya, walaupun sama – sama lelah oleh pertengkaran yang mewarnai tahun pertama pernikahan mereka, bunga – bunga cinta semakin mekar seperti musim semi, karena melalui proses pertengkaran itulah mereka semakin saling memahami suara hati pasangannya.
Tetesan – tetesan air mata keluar dari pipi merahnya, saat menutup album foto pernikahan mereka, sambil menyeka air matanya, dia beranjak menuju dapur, duduk di meja makan, memandang kue tart pernikahan yang dia buat sendiri, untuk merayakan ulang tahun pernikahan mereka seperti tahun – tahun sebelumnya, ingin sekali dia menelefon suaminya, namun karena takut mengganggu kesibukan suaminya, di urungkannya niatnya.
“Krinnggggg,,,,” Handphine Farah berbunyi
“Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam, Adinda, cintaku, lagi ngapain tu,,,?” Jawab Dodi
“Lagi menerima telefon,,,”
“Dari siapa,,,?”
“Dari siapa yah,,,? Ga ada di Handphone ini nomernya” kata Farah sambil tertawa
“Huuu,,,, selalu always tidak pernah never deh,,, hehehe”
“Ya iyalah, masa ya iya dong” jawab Farah
“Makan kedondong ga bagi – bagi” kata Dodi
“Kedondong udah di buat jadi rujak, xixixi” balas Farah
“Oh ya, hari ini Kakanda mau mengucapkan Happy milad untuk pernikahan kita yang ke lima ya, my Queen”
“Kakanda tahu, selama ini mungkin sudah terlalu banyak membuat Adinda lelah melakukan pekerjaan rumah dan menemani kakanda mengarungi bahtera kehidupan selama ini”
“xixixi,,, aduh Kakanda, itu sudah tugas dan kewajiban adinda, sebagi seorang istri, Adinda selalu menganggap cinta bukanlah perdagangan untuk mencari untung, Kakandaku sayang, Cintaku kepada Kakanda karena Allah SWT dan semata – mata mengharapkan menjadi amalan ibadah Adinda saja”
“Aduh, Adindaku, jadi kangen mau cepat – cepat pulang neh, sehari serasa sudah sewindu, sekarang sudah seminggu, terasa seperti memancing udang Galah, hehehe”
“Oh ya, hamper lupa, tadi abang ada mengirimkan kado untuk Adinda, sekalian mengirimkan kado ultah untuk keponakan imut Abang yang di Bandung, Zaki, Kado untuk adinda itu berupa Gaun malam, tadi sewaktu melewati butik, abang teringat Adinda sudah lama tidak membeli gaun, sementara untuk Zaki tadi Abang belikan mainan kesukaannya”
“Iya Abang, terima kasih”
“Sudah dulu ya? Mau kerja lagi sekarang, Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam W. W.” tutup Farah
***

“Ting tong,,,” Suara bell ruangan tamu
Farah meletakkan Handphonnya di atas meja dapur, bergegas dia menuju ruang tamu untuk membuka pintu.
Seorang pengantar barang dari perusahaan ekspedisi mengantarkan kiriman kadi dengan nama penerima yang tertempel di atas kertas kado yang membungkus kiriman tersebut, setelah menyelesaikan administrasi, Farah kemudian membawa kado tersebut ke ruangan keluarga.
“kok gede ya,,,? Perasaan abang bilang kadonya gaun, tentu tidak besar bungkusannya” pikir Farah
Kemudian dibukanya sampul kertas kado dan kardus yang membungkus isinya. Sebuah mobil elektrik terdapat di dalamnya, sebuah mainan untuk anak – anak berusia di bawah 10 tahun.
“Abang Jelekkk” teriak Farah dengan gemas



Written by

 

© 10-5-2014 about,,,. All rights resevered. Designed by Diubah karena banyak script anehnya

Back To Top