Wednesday, November 23, 2011

Bidadari di balik etalase kaca

3:32 PM




Perjalananku kali ini terhenti pada sosok wanita yang duduk termenung sendiri di sebuah café yang aku pandangi dari seberang jalan. Entah kenapa wanita cantik itu duduk sendirian dengan raut muka sedih memandang kearah jalanan tempat aku berdiri memandangnya.

Pandangan kami sesaat saling beradu, bertatapan dengan mata sendunya membuat dadaku sedikit berdebar, Dia tahu aku sedang memandang dirinya dan menunggu aku berjalan kearahnya, untuk menemani dirinya, dengan sedikit keraguan aku mulai berjalan menuju kearahnya, memasuki café yang pernah menjadi salah satu tempat memori terindah dalam hidupku.

“Akhirnya kamu datang juga, Bram” sapanya, saat aku duduk di hadapannya.

Aku hanya membisu mendengarkan perkataannya.

“Sulit sekali untuk menghubungi dirimu, kenapa?” tanyanya lagi.

“Aku tidak tahu,,, Metha” kataku lirih.

Aku mendengar lirihan tangisnya mulai pecah

“Aku merindukan dirimu, Bram…”

“Aku tidak mengetahui kenapa kita harus secepat ini berpisah, bukankah seharusnya saat ini kita bersanding berdua menjadi pasangan suami istri”

Entahlah, aku tidak tahu kenapa bibirku diam tidak mengeluarkan suara untuk menjawab segala curahan hatinya, mungkin aku hanya ingin mendengar suaranya. Matanya kembali memandang jalanan yang mulai basah oleh hujan yang baru saja turun.

“semenjak dirimu meninggalkan Diriku, Aku mulai menata kehidupanku kembali, mulai melupakan dirimu dalam memori kenangan tentang hubungan kita, namun entah kenapa kamu selalu hadir melalui hatiku.”

Tangis metha pecah setelah dia menceritakan isi hatinya, dan aku tetap diam membisu tak bersuara.

Sesosok pria datang menghampiri Metha, menyentuh lembut bahunya

“Mba, kenapa menangis sendirian? Ada yang bisa saya bentu mbak?” kata pria tersebut, seorang manajer café yang senang sekali berkomunikasi dengan pelanggan cafénya.

***

Ingatanku pun kembali saat terakhir aku meninggalkan Metha untuk terakhir kalinya, saat itu kami sedang dalam perjalanan dalam mobil di wilayah pegunungan, kami sedang berbahagia karena usia pernikahan kami akan berlangsung sebulan lagi.

Tiba – tiba sebuah Truk yang di kemudikan secara ugal – ugalan bermaksud memotong kendaraan kami, namun dari arah berlawanan juga ada kendaraan melintas, dan tabrakan itupun terjadi saat truk membelokkan arah kendaraannya menuju mobil kami.

Mobil kami terjatuh kejurang, Metha beruntung masih hidup dalam kecelakaan mengerikan itu, namun tidak untuk diriku…

***

“Dia tadi hadir didepanku” Kata Metha kepada sang Manajer…

“Ndak ada, mbak,,, dari tadi mbak sendirian saja duduk di sini” Kata sang Manajer dengan lembut.

Ditengah kebingungan Metha, akupun melangkah keluar dari café dengan diam – diam 
karena tidak akan ada orang yang dapat melihatku.

Semua gambar dari 

Sini dan Sini

Written by

0 komentar:

Post a Comment

 

© 10-5-2014 about,,,. All rights resevered. Designed by Diubah karena banyak script anehnya

Back To Top